Menu

Laman

  • loading...
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Tradisi Melukat di Pura Tirta Empul


-
-


Bali memang masih sangat kental adat istiadatnya bahkan setiap harinya selalu ada yang mengadakan upacara adat. Kebudayaannya yang khas membuat wisatawan rela jauh-jauh untuk berkunjung ke Bali. Bahkan banyak wisatawan yang mengikuti aktivitas Melukat di Pura Tirta Empul. 

Sudah dari tahun lalu saya ingin sekali mengunjungi Pura Tirta Empul tapi sayang, waktu yang tidak memungkinkan untuk saya dapat mengunjungi Pura tersebut. Hingga akhirnya saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Pura Tirta Empul. Sabtu 9 Sep 2017.

***

Pura Tirta Empul terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar, Bali. Pura ini terletak kurang lebih 40 km ke arah timur laut dari Kota Denpasar. Sesampainya di Pura Tirta Empul sudah dipenuhi oleh wisatawan.

Banyak pula para wisatawan yang ikut turun untuk mensucikan diri di Pura Tirta Empul termasuk kami bertiga pun ikut menemani Rojack, salah satu teman kami yang memang akan sembahyang disana. 

Bagi para pengunjung akan dikenakan retribusi tiket masuk Rp. 15.000/orang. Setiap pengunjung akan diberikan Kamen atau sarung adat khas Bali (gratis) karena akan menuju tempat yang suci. Ingat, setelah kunjungan harus dikembalikan yah Kamen nya.

Bagi wanita yang sedang berhalangan dilarang memasuki Pura karena sedang dalam kondisi tidak bersih.

Kami bisa langsung masuk karena kami akan mengikuti aktivitas Melukat di Pura Tirta Empul.

Cara pakai kain untuk wanita
Cara pakai kain untuk pria
Melukat adalah ritual pembersihan diri menggunakan sumber air suci. Pengunjung pun bisa ikut serta dalam aktivitas Melukat di Pura Tirta Empul.

Sebelum memasuki Pura, bagi pengunjung yang akan mengikuti aktivitas Melukat diharuskan mengganti pakaian dengan sebuah kain yang telah disediakan dengan biaya Rp. 15.000/orang.

Kami akan diberikan satu helai kain satin berwarna hijau dan satu helai obi untuk pengikat di bagian pinggang yang berwarna merah. Kami diberikan 2 kunci loker karena ukuran loker terbilang besar. Cukup diisi dengan 3 tas dan sepatu atau sendal bawaan.

Sebelum kami memasuki loker, Bli yang menjaga didepan memberikan kami pengarahan cara memakai kain untuk wanita dan pria.

Cara menggunakan pakaian untuk Melukat :
Cara pakai kain untuk wanita yaitu arahkan kain dibagian belakang tubuh setelah itu tarik kain kebagian depan dengan cara lilitkan bagian ujung kanan dan ujung kiri ke leher setelah itu ikatkan pada bagian punduk leher setelah itu kain berwarna merah di ikat dibagian pinggang dengan simpul yang berada tepat disamping pinggang, bukan di ikat dibagian depan atau belakang ya ladies.

Cara pakai kain untuk pria yaitu arahkan kain dibagian belakang pinggang setelah itu tarik kain kebagian depan dengan cara ikatkan kain kebelakang lalu ikatan tersebut ditutupi dengan kain berwarna merah menyerupai obi dengan simpul yang juga sama di bagian samping pinggang.

Ritual doa sebelum memasuki Pura

Terdapat 14 pancuran di Tirta Pembersihan

Satu hal lagi, loker yang tersedia di Pura Tirta Empul campur jadi satu. Tidak ada tempat yang berbeda antara wanita dan pria. Banyak yang kesulitan saat berganti pakaian karena toilet yang tersedia hanya ada 4 ruangan saja sehingga banyak pengunjung yang berganti pakaian didepan loker masing-masing.

Bahkan ada pengunjung yang saling membantu untuk menutupi tubuh temannya dengan kain agar mereka bisa berganti pakaian atau kalau mau ganti ditoilet juga bisa tapi antriannya sangat panjang.

Setelah selesai memakai kain, kami siap memasuki Pura Tirta Empul dimana kami tidak bisa langsung masuk begitu saja karena ketentuan bagi umat Hindu yang akan sembahyang diharuskan berdoa terlebih dahulu sebelum memasuki Pura. Kami bertiga pun menunggu Rojack berdoa terlebih dahulu.

Pelataran Pura Tirta Empul memiliki bau yang khas dari dupa. Suasananya yang begitu ramai dengan pengunjung tak membuat risih umat Hindu yang akan beribadah disana.

Beberapa kali saya melihat wanita berjajar rapi dengan mengenakan kebaya berwarna pink muda yang dibaluti obi berwarna kuning dengan rambut yang dikepang disisi kiri, begitu manis senyumannya saat melewati kami yang tengah menunggu Rojack berdoa.

Akhirnya kami pun memasuki Pura Tirta Empul yang memiliki 3 kolam dengan fungsi dan arti yang berbeda. Kolam pertama yang kami masuki memiliki 14 pancuran yang bernama Tirta Pembersihan. Disana ada 2 pancuran yang harus dihindari yaitu Tirta Pengentas I dan Tirta Pengentas II dimana yang artinya adalah untuk mensucikan mereka yang telah tiada.  
Ada 6 pancuran di Tirta Upakara
Kolam kedua bernama Tirta Pelebur (Kutukan dan Sumpah). Setelah kami melewati 14 pancuran yang berada di Tirta Pembersihan, kami pun harus naik 2 tangga yang telah tersedia dan berpindah ke kolam sebelahnya.

Disana tersedia hanya 2 pancuran saja, saat saya melewati kedua pancuran tersebut ada yang mengisi air tersebut ke dalam botol. Air suci tersebut akan dipakai kembali untuk sembahyang. 

Kolam Terakhir terdapat di sisi barat yang bernama Tirta Upakara (Tirta Penyakit Berat) yang memiliki 6 pancuran. Tiap pancuran yang berbentuk menyerupai keong besar memiliki makna tersendiri yaitu Tirta Gering, Tirta Leteh, Tirta Penyakit Berat, Tirta Pengulapan, Tirta Pengenteg Beras dan Tirta Kesejahteraan Keluarga. 

Saya dan Jeje ikut serta Melukat di Pura Tirta Empul

Tata Cara Melukat :

  • Persiapkan pakaian untuk Melukat
  • Siapkan Canang atau sesajen untuk disimpan diatas pancuran
  • Setelah menyiapkan Canang, siapkan dupa yang telah dibakar dan didoakan
  • Mulai memasuki kolam, pada setiap pancuran melakukan ritual doa dengan kedua tangan bertemu dengan posisi sejajar dengan dahi 
  • Setelah berdoa, basuh bagian kepala dan basuh bagian muka sebanyak tiga kali,  berkumur sebanyak tiga kali lalu minum sekali

Gimana? Kamu tertarik gak mencoba ritual Melukat di Pura Tirta Empul. Ingat, jika kamu mencoba ritual Tirta Empul jangan sesekali menggangu umat Hindu saat melakukan ritual tersebut. Antri lah saat akan melewati beberapa pancuran yang berbentuk seperti keong besar.

Sumber air yang berasal dari tiap pancuran bisa diminum. Airnya pun sangat segar, dingin dan juga jernih. Sebenarnya di Pura Tirta Empul terdapat 33 pancuran namun kini menjadi 22 pancuran saja yang dapat digunakan. Ada beberapa pura yang tidak dapat kami masuki, didekat Pura Tirta Empul terdapat Istana Presiden yang begitu megah dan tidak dibuka untuk umum.


Kolam ikan yang terdapat diarah Pintu keluar

Pintu keluar Pura Tirta Empul berbeda dengan arah kami masuk. Kami harus bertolak ke arah Istana Presiden lalu belok kiri dimana ada sebuah pintu seperti akan memasuki Pura padahal bukan. Disana terdapat kolam besar yang berisikan ikan. 

Ada satu keanehan yang saya lihat di kolam itu. Kolam besar tersebut terbagi menjadi 2 bagian dengan pembatas yang lebih tinggi. Anehnya adalah di kolam yang lebih kecil semua ikan berkumpul memadati luasnya kolam. 

Padahal di kolam yang lebih besar terdapat 2 ikan yang dengan senangnya berlarian kesana kemari macam dua sejoli lagi kasmaran. Entah mengapa kolam besar itu hanya ada 2 ikan saja sedangkan di bagian kolam kecil, semua ikan berkumpul jadi satu. 

Tak hanya itu saja, banyak sekali penjual yang berjajar menyajikan aneka makanan, minuman dan juga oleh-oleh khas Bali. Bahkan ada juga yang berjual pakaian. Sehingga pengunjung tak perlu khawatir jika lupa bawa baju ganti. 

Sekian pengalaman saya mengunjungi Pura Tirta Empul. Saya merasa sangat berkesan sekali dapat merasakan Ritual Melukat di Pura Tirta Empul. 


Cheers,

Dian Juarsa
11 Oct 2017

Batu Angus akibat aliran lahar bekas letusan Gunung Gamalama, Ternate


-
-

"Apa kisah dibalik Batu Angus?" 
"Mengapa dinamakan Batu Angus?" 
"Apa daya tarik dari Batu Angus?"


***

Batu Angus memiliki nama yang sangat unik. Pelataran depan Batu Angus banyak ditumbuhi tanaman liar yang menghijau. Saya pikir hanya berupa hutan buatan, Namun saat saya memasuki kawasan Batu Angus, Ternyata banyak sekali bebatuan yang berwarna hitam di pelataran Batu Angus.





Batu Angus adalah batu dari hasil aliran lahar bekas letusan Gunung Gamalama pada tahun 1673, dimana bebatuan dari lahar tersebut mengeras dan mengering menjadi berwarna hitam kelam. Akan tetapi, meletusnya Gunung Gamalama tidak selamanya menyisakan kerusakan saja melainkan adanya hamparan luas Batu Angus yang kini menjadi Destinasi Wisata yang diminati pengunjung.



Letak Batu Angus yang tak jauh dari Kota Ternate sekitar 10km bisa dilalui oleh kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Jadi bagi para pengunjung tidaklah sulit untuk menemukan Batu Angus. Selain itu, jika kalian ingin berfoto diantara bebatuan yang angus ini juga bisa kalian dapatkan dipinggir jalan. Karena selama perjalanan menuju Destinasi Wisata memang dikeliling Batu Angus.




Cuaca yang tak menentu membuat pemandangan saya yang awalnya gelap karena warna awan yang berubah menjadi keabuan tak lama kemudian matahari muncul dan menyinari tempat dimana saya berpijak. Yaapppp luar biasa pemandangan di Batu Angus. Jalan terbentang dengan beberapa kelokan disertai pemandangan tanaman hijau yang mengelilingi area Batu Angus menuju arah lautan lepas. Saat berjalan lurus mengikuti arah jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan pribadi seperti mobil atau motor, Kami disuguhkan lautan luas terbentang dengan pegunungan yang terlihat mengecil karena dari kejauhan. Sedangkan saat saya menoleh ke arah belakang, Gunung Gamalama yang tertutup kabut pun menjadi pemandangan yang tak kalah cantiknya dari lautan yang begitu biru. Gunung Gamalama terlihat sangat besar sekali, seakan saya sudah mecapai setengahnya dari Gunung Gamalama. Padahal saya masih dibawah kaki Gunung Gamalama. Hehee..





Gunung Gamalama memang tak pernah pelit akan keindahannya. Pemandangan cantik ini bisa kalian saksikan secara dekat di Batu Angus. Gunung Gamalama adalah sebuah gunung stratovolcano yang berbentuk kerucut terdapat di keleuruhan Pulau Ternate, Maluku Utara dengan ketinggian 1715 MDPL. 

Kawasan Batu Angus memiliki luas hampir 10 hektare dibagian ujung Kota ternate. Memang di kawasan ini jarang sekali ditemukan warung jajanan karena memang tempat ini seringkali dijadikan persinggahan sementara oleh para pengunjung. Banyak sekali diantaranya membawa bekal sendiri sembari menikmati panorama indahnya Batu Angus dengan bagian sisi barat Gunung Gamalama, sisi timur hamparan lautan luas.


 
Memang tak selamanya bencana alam akan terus membawa nestapa dan penderitaan. Namun juga keindahan yang tidak dimiliki tempat lainnya dengan tanah yang sangat subur sehingga masyarakat Ternate mendapatkan banyak keuntungan akibat gunung meletus. 

Biarkan Batu Angus ini menjadi saksi bisu dari apa yang terjadi pada abad ke 17 yang menewaskan banyak warga setempat dengan aliran lahar yang begitu panas mengaliri setiap celah dari atas Gunung Gamalama hingga pesisir pantai. Kini, Batu Angus menjadi ikonnya Ternate bahwa setiap pengunjung akan dikatakan belum pernah ke Ternate jika belum berkunjung ke Batu Angus. So you guys...Kalau ke Ternate jangan pernah lewatkan Batu Angus yah.  

Benteng Tolukko peninggalan Portugis, Ternate


-
-

Ternate memiliki banyak benteng yang bersejarah. Umurnya pun sudah ratusan tahun lamanya. Benteng di Ternate juga beragam kisah sejarahnya. Ada peninggalan dari Portugis hingga dari Belanda. Dari kejauhan sudah terlihat benteng yang megah karena memang benteng ini berada di dataran tinggi. Benteng Tolukko terletak di kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini peninggalan dari Portugis yang pernah berkuasa pada abad ke 15.

Begitu memasuki Benteng, suasananya terawat dan juga asri dengan tanaman hijau dibagian pinggir benteng. Untuk masuk kebagian dalamnya benteng, kalian harus memasuki sebuah lorong yang berjarak hanya sekitar 3 meter. 
Taman Asri di pelataran Benteng Tolukko
Lorong menuju dalam Benteng Tolukko
Setelah itu kalian akan keluar dari lorong dengan posisi sebelah kanan akan ada sebuah lubang yang berbentuk persegi panjang dilengkapi dengan tangga untuk dapat menuju bawah dan di bagian sudutnya pun terdapat ruang bawah tanah yang dulunya difungsikan sebagai tempat penyimpanan amunisi perang. Ruang bawah tanah ini cukup berbahaya jika kalian masuk kedalamnya karena memang tidak ada penerangan dan juga tidak ada tanda jalan.
Ruang Bawah Tanah
Berkeliling Benteng Tolukko terdapat sebuah lorong lagi yang sangat sempit, disana kita bisa melihat indahnya pegunungan Gamalama yang tertutup awan sehingga yang terlihat hanyalah bawah kaki Gunung Gamalama. Genteng-genteng yang berwarna merah bata pun tak terlalu banyak yang terlihat, memang masih didominasi dengan pemandangan pepohonan hijau yang begitu nikmat dipandang. 
Bagian bawah terdapat lorong kecil untuk berjalan



Benteng Tolukko ini seperti dikelilingi lukisan nyata yang alami dari puncak Benteng akan terlihat lautan Maluku, Pulau Tidore, Pesisir Barat Pulau Halmahera dan juga pegunungan, namun dibagian sisi lain terlihat seperti sebuah kota lengkap dengan rumah-rumah dan jalanan yang begitu panjang disertai dengan kendaraan warga setempat. Memang Benteng ini memiliki daya pikat tersendiri karena dikelilingi pemandangan yang sangat komplit. Bagaikan makanan 4 sehat 5 sempurna #halah




Sejarah Benteng Tolukko
Benteng Tolukko didirikan pada tahun 1540 oleh Fransisco Serao, seorang panglima asal Portugis yang meguasai hampir seluruh perdagangan rempah di Ternate pada abad ke 16. Awal mulanya nama Benteng Tolukko ini adalah Santo Lucas yang digunakan sebagai pertahanan sekaligus pusat penyimpanan rempah-rempah yang akan diperdagangkan. Sehingga letak Benteng Tolukko berada di puncak bukit yang cukup tinggi, dapat menjadi tempat yang sangat sempurna untuk mengawasi segala gerak gerik yang terjadi di Istana Kesultanan Ternate. 

Portugis ternyata tidak hanya mendirikan benteng melainkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah yang dituangkan dalam suatu perjanjian. Semenjak adanya perjanjian tersebut, Ternate merasa dirugikan karena harus menjual dengan harga yang sangat rendah kepada Portugis yang kemudian berubah menjadi pemeras. oleh karena itu, Ternate serentak menyatakan permusuhan kepada Portugis.

Setelah perlawanan rakyat Ternate dibawah pimpinan Sultan Babullah, akhirnya kekuasaan Portugis berakhir pada tahun 1577. Sejak saat itu Benteng Santo Lucas dikuasai kesultanan Ternate hingga akhirnya Belanda datang merebut benteng tersebut dan mengganti namanya menjadi Benteng Hollandia. Benteng ini pun dipugar pada tahun 1610 dan dijadikan salah satu pertahanan Belanda di Ternate. Berdasarkan beberapa perjanjian kerjasama pemerintah VOC da kesultanan Ternate. Akhirnya pada tahun 1661 Sultan Ternate bernama Mandar Syah diberi izin untuk menempati Benteng Hollandia dengan personil 160 orang.

Nah untuk nama Tolukko sendiri berasal dari nama penguasa kesepuluh yang duduk di singgasana Ternate yaitu Kaicil Tolukko yang memerintah pada tahun 1692. Akan tetapi ada sumber lainnya menyebutkan bahwa nama Tolukko ini berasal dari tidak jelasnya masyarakat Ternate saat melafalkan Santo Lucas, hingga akhinya Santo Lucas berubah menjadi Tolukko. Sampai saat ini masih tetap dinamakan Benteng Tolukko.

Konstruksi benteng ini terbuat dari berbagai macam jenis batu antara lainnya batu kali, batu karang serta batu pecahan batu bata yang direkat oleh campuran kapur serta pasir. 


Rumah Peninggalan Tahun 1914 di Desa Bumbulan, Pohuwato


-
-

"Rumah Tua"
"Rumah Kosong"
"Rumah Peninggalan Penjajahan"
"Pasti deh rumahnya banyak hantunya" 
Yaaapppp begitulah saya kalau sedang berbicara dengan diri sendiri. Berbagai macam pikiran negatif berkecamuk seakan saya tidak mau memasuki rumah tersebut. Tapi beda halnya dengan rumah tua yang saya kunjungi di Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat.

Baca : Pohuwato | Suasana Tempat Pelelangan Ikan (TPI)  
Rumah tertua tahun 1914

Rumah tertua adat Gorontalo di Desa Bumbulan, Kec Paguat, Kab Pohuwato memang bukanlah tempat destinasi wisata. Saya termasuk orang yang beruntung karena dipersilakan masuk dan mengunjungi rumah tertua ini. Letaknya tidak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan Desa Bumbulan. Sepintas melihat bangunannya masih sangatlah bagus dan kokoh, belum lagi warna catnya yang tidak terlihat lusuh membuat saya semakin penasaran seperti apa rupanya rumah tertua ini. 

Sudah 5 generasi yang menempati rumah tertua adat Gorontalo dari tahun 1914. Rumah tertua adat Gorontalo pun telah berumur 103 tahun masih tetap berdiri kokoh. 

Pemilik rumah ini bernama Fuad Junus Lie yang menganut agama kristen dan masuk agama islam sehingga namanya pun berubah. Fuad Junus lie menikahi salah satu perempuan asal Gorontalo yang akhirnya membuat sebuah rumah yang hingga kini masih ada wujudnya dan sangat terawat.  
Ibu Ori dari generasi kelima

Ibu Ori adalah generasi terakhir yang menempati rumah tertua adat Gorontalo. Beliau begitu ramah menyambut kedatangan kami. Saat kunjungan kami kesana suaminya sedang tertidur pulas diujung pintu dan putrinya sedang santai menonton TV. Ibu Ori terus tersenyum saat kami berinisiatif menanyakan perihal terdahulu tentang rumah tertua ini. Padahal belum lama ini Ibu Ori baru saja berduka karena menantunya meninggal saat hamil tua. 
Pak Abi Daeng Metteru duduk di kursi tertua 1915
Kursi yang di duduki Pak Abi memang dibuat pada tahun 1915. Namun siapa sangka kalau itu adalah kursi satu-satunya yang masih bertahan hingga saat ini. Ibu Ori menjaga semua peninggalan turun temurun, tak ada sedikit pun dari bangunan rumah ini dirombak karena memang Ibu Ori ingin menjaga keasliannya seperti dahulu kala.


Rumah peninggalan penjajahan Belanda ini memiliki 3 buah pintu yang tinggi dibagian depan berbahan dasar kayu. Jendelanya pun tidak berkaca melainkan dari kayu dengan ukuran setengahnya pintu bagian depan. Pintunya pun bertirai hanya dibagian atasnya saja sedangkan jendela tirainya menutupi seluruh bagian. 

Rumah ini terdiri dari 4 kamar yang memanjang kebelakang sehingga seperti adanya lorong kebagian belakang yang berujung dengan ruangan dapur. 



Foto-foto terahulu pun di pajangnya dengan menggunakan pigura agar fotonya tak rusak dan masih awet hingga kini. Konon ada mitos yang sering terdengar perihal keberadaan rumah ini. Jadi dulu itu bagi siapapun yang meninggalkan rumah ini akan mati. Sehingga ada salah seorang perempuan yang berani meninggalkan rumah lalu dibunuh oleh pasukan kerajaan. Sampai akhirnya hingga kini masih bergentayangan arwahnya. Entah cerita ini hanya legenda aja atau memang benar adanya. Tapi itulah yang saya dapatkan dari Ibu ori.


Sebenarnya kami merasakan nyaman saat berisitirahat di rumah Ibu Ori karena angin semilir begitu sejuknya membuat kedua mata saya ingin terpejam sejenak. Sangat nyaman dengan suara pohon yang bergerak akibat angin yang terus menghembus hingga saya pun enggan beranjak dari rumah Ibu Ori. Tapi itu hal yang tidak mungkin karena masih ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi. 

Terima kasih Ibu Ori atas sambutannya yang hangat

***

Setelah berkunjung dari rumah Ibu Ori ada jembatan penghubung dari kayu yang instagrammable banget. Akhirnya kami pun turun sejenak hanya untuk mengambil beberapa foto disini.



Sekian sudah kunjungan kami di Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat. Buat teman semua yang ingin berkunjung ke rumah tertua adat Gorontalo, mohon datang dengan sopan dan ucapkan salam terlebih dahulu. Karena Rumah tertua adat Gorontalo bukanlah tempat wisata.

Cheers,
#pohuwatogoesdigital
Dian Juarsa
5 May 2017

Sengkang si manusia laut yang hidup di Torosiaje, Kampung Suku Bajo


-
-

Hidup diatas lautan pernah terlintas di pikiran saya karena ingin rasanya sesekali merasakan angin semilir di lautan yang dapat membuat saya terbuai akan sentuhan anginnya sehingga saya pun terlena di suatu tempat yang membuat saya berpikir seakan hidup itu masih penuh dengan kedamaian.

Ternyata di Provinsi Gorontalo, Kabupaten Pohuwato , Kecamatan Popayato terdapat kampung diatas lautan yang bernama Torosiaje, kampungnya suku bajo yang berada di air laut Teluk Tomini yang berjarak sekitar 600 meter dari daratan. Torosiaje berasal dari kata "Toro" yang artinya Tanjung, kalau cara pengucapan suku bugis sebutannya koro dan "Si Aje" yang berarti panggilan untuk Pak Haji yang bernama Patta Sompa, nama warga pertama yang mendiami kampung suku bajo.

Mengapa Torosiaje disebut sebagai Kampung Suku Bajo? karena Suku Bajo sangat dominan dari suku lainnya. Padahal di Torosiaje tidak hanya suku Bajo saja yang hidup disini melainkan ada Suku Bugis, Makasar, Minahasa, Gorontalo, Mandar, Buton, Jawa dan Madura menjadi satu wilayah. Walaupun berbeda suku tapi mereka hidup rukun satu sama lain. Mayoritas warga di Torosiaje adalah beragama islam. Penghuni Torosiaje sekitar 1.400 jiwa penduduk.

Perjalanan ke Torosiaje dari Bandara Djalaludin Gorontalo memakan waktu selama 7 jam, waktu yang sangat lama untuk menuju Torosiaje namun kalian tidak akan menyesal bila sudah sampai di Torosiaje karena keunikan, budaya dan juga cara hidup mereka selama di lautan akan membuat kalian merasa puas dengan segala perbedaannya dari yang hidup di daratan.

Kamis, 4 May 2017 tepat pukul 15.05 WITA saya sudah sampai tepat di depan gapura desa torosiaje. Kami masih harus menyebrangi hutan mangrove yang berdampingan dengan lautan yang memakan waktu selama 15 menit saja. Jarak yang tak terlalu jauh dengan biaya kapal Rp. 5.000 pulang pergi (Harga bisa berubah sewaktu-waktu).
Gapura menuju Torosiaje
 Hutan Mangrove Torosiaje Jaya

Melintasi perkampungan dengan kapal disertai aroma laut yang begitu khas dengan kesibukan penduduk yang hidup di kampung suku bajo terlihat normal seperti kami yang hidup di daratan. Disana juga terdapat taman kanak-kanak, sekolah menengah dasar hingga sekolah menengah pertama bahkan ada juga lapangan untuk bermain bulu tangkis loh. Sungguh luar biasa kehidupan di lautan yang terlihat sama saja seperti kita di daratan. Sempat terpikir kalau mereka yang hidup di atas laut tidak akan pernah merasakan bangku sekolah atau mungkin bisa bermain selayaknya kami yang ada didaratan. Ternyata saya salah, kehidupan disini sama saja dan tidak ada perbedaan, Hanya tempat tinggalnya saja yang berbeda.
Tiang sebagai pondasi bangunan agar tetap kokoh
Menyusuri kampung suku bajo


Penduduk di Torosiaje sangatlah ramah dengan segala keaneka ragaman budaya. Mereka bisa berbaur satu sama lain. Pekerjaan penduduk Torosiaje mayoritas adalah nelayan kalaupun ada yang petani itu hanya sekedar sampingan saja. Karena menurut mereka menjadi nelayan adalah pekerjaan utama yang selalu mendapatkan ikan setiap saat. Bahkan ditiap pekarangan rumah pasti ada keramba ikan. Mereka memelihara berbagai jenis ikan. Hasil tangkapan ikan yang mereka peroleh sebagian untuk diperjual belikan dan sebagian untuk makanan mereka sehari-hari. Ikan hasil tangkapan tidak pernah mereka simpan karena berapapun hasil tangkapan ikannya akan dengan segera mungkin mereka habiskan saat itu juga. 

Rumah Suku Bajo penuh warna
Hari semakin sore tepat pukul 17.57 PM WITA kami pun dengan gerak cepat mencari spot untuk melihat sunset yang begitu indah. Ternyata ada satu rumah yang memiliki spot sunset yang begitu tepat dan tempat itu sering kali dipakai oleh para wartawan TV untuk mengambil gambar disana yaitu rumah dari keluarga Fachrul yang baru saja beberapa bulan lalu berulang tahun yang pertama.

Baca juga : Suasana Tempat Pelelangan Ikan di Desa Bumbulan

Rumah paling ujung samping kanan adalah Rumah Fachrul
Happy Birthday Fachrul

Rumah itu pun tertata dengan rapi dan sangaaatttt bersih, memang beberapa kali saya masuk ke rumah suku bajo keadaannya selalu rapi dan bersih. Lantai yang saya pijak pun tidak berdebu ataupun terasa kotor. 

Beberapa menit kami tunggu kedatangan sunset, sempat hopeless karena sebelumnya hujan begitu lebat sehingga kami pun tak yakin apakah akan ada sunset atau tidak. Ternyata pikiran kami salah, sunset pun begitu nyata terlihat indah, dengan gerak cepat kami mengabadikan sunset yang hanya beberapa menit saja.
Sunset Torosiaje
Setelah puas menyaksikan sunset di dapur orang, Kami bergegas untuk kembali ke penginapan yang terletak di ujung perkampungan. Penginapan itu dikenakan biaya Rp. 100.000/malam (Harga sewaktu-waktu berubah). 

Penginapan itu disediakan oleh pemerintah jikalau ada pengunjung yang berdatangan. Kamar disana yang tersedia hanya ada 6 kamar tidur dan 2 kamar mandi yang terletak diluar kamar tidur. Kalau pengunjung tidak kebagian penginapan tidak perlu khawatir karena pengunjung lainnya bisa menginap di rumah warga dengan harga yang dapat mereka tentukan sendiri.
Penginapan kami semalam


Setelahnya menyaksikan sunset, saya begitu menikmati dengan aksinya anak kecil saat mendayung. Terlihat sudah alat dayungnya lebih besar ketimbang tubuhnya. Mereka memang lebih sering menggunakan alat dayung ketimbang harus menyalakan mesin perahu. 

Selang waktu yang begitu cepat kami pun bergegas mencari makanan disana. Ada satu tempat makan yang berada tepat di dermaga yang selalu bertandang speed boat nya polisi disana. Makanan yang disajikan memang selalu ikan. Semua makanan yang disajikan habis ludes oleh kami yang telah menahan lapar sedari tadi.

Baca juga : Cara mengolah air nira menjadi gula semut 
Makan malam
Setelah makan, kami kedatangan sekdes kampung suku bajo yang bernama Pak Dedi Pakaya. Beliau bercerita tentang sejarah yang hilang dari kampung suku bajo. Konon katanya dahulu kala ada seorang putri dari tanah johor yang hilang sehingga raja memerintahkan kepada seluruh prajurit untuk mencari putri di seluruh lautan. Selama pencarian cuaca buruk pun menghalangi prajurit dalam pencarian sehingga diperintahkan oleh komando untuk singgah disana. Saat itu seluruh prajurit singgah di singapore. Kalau dikaitkan dengan bahasa bugis, singapore artinya adalah singgah disana. Namun kini singapore diartikan dengan singa oleh penduduk sekarang. 

Selama pencarian sang Putri masih juga belum ditemukan. Ternyata ada seorang pangeran dari suku Bugis yang menemukan Putri dari Johor ini. Selama ditemukan sang Putri membisu, tak bicara sepatah kata pun sehingga akhirnya Pangeran Bugis menikahi sang Putri. Akhirnya sang Putri melahirkan seorang anak. Sejak saat itulah Putri dapat berbicara dengan nyanyian yang selalu dia nyanyikan agar anaknya bisa tertidur. Nyanyian itu adalah nyanyian bajo. Menurut info yang diterima, nyanyian bajo yang tahu hanyalah ketua adat. Namun sayangnya kami tidak dapat bertemu dengan kepala adat karena beliau sedang tidak ada di tempat.


Malam semakin larut, cerita dari sekdes pun terasa semakin seru membuat kami merasakan seperti ada dalam ceritanya. Masih tentang kisah suku Bajo. 

Awal mula adanya Suku Bajo adalah Pada tahun 1901 yang hanya terdapat 4 rumah saja yang dikelilingi oleh hutan mangrove. Sampai akhirnya hingga saat ini, rumah di kampung suku bajo semakin bertambah. Pembangunan rumah di kampung suku bajo mengikuti air yang dangkal agar kondisi tiang tetap kokoh dan bertahan lama. Penduduk yang tinggal di kampung suku bajo tidak diperbolehkan dari luar. Kecuali penduduk luar itu menikahi salah satu warga kampung suku bajo, barulah mereka bisa membuat rumah di perkampungan suku bajo. Sama halnya ada seorang WNA dari Cina yang ingin tinggal di kampung suku bajo dan akhirnya bisa hidup di kampung suku bajo karena menikahi salah satu penduduk asli suku bajo.

Pada tahun 1976 ada seorang warga yang membuat panggung pengeringan ikan asin dengan kayu untuk pondasi tiang. Setelah beberapa kali ganti kayu, hanya ada satu kayu yang bertahan lama yaitu kayu Gopasa Batu. Kayu tersebut hidup di pegunungan yang berbatu namun tidak terlalu jauh dari pesisir laut. Pengambilan kayu tersebut membutuhkan waktu hingga 3 jam dari kampung suku bajo. Namun sayang, kini kayu Gopasa Batu sudah semakin langka karena terus dibabat untuk pembuatan pondasi tiang warga suku bajo.

Kami masih ingin mendengarkan kisah suku bajo dari pak sekdes namun mata tak bersahabat karena hari semakin larut dan gelap. Saatnya kami harus beristirahat agar tidak tertinggal sunrise yang begitu cantik di Torosiaje.

Baca juga : Rumah Peninggalan Tahun 1914 di Desa Bumbulan, Pohuwato 



05.20 AM WITA Warna orange menyembul ke permukaan, Awan cantik membentuk guratan indah bak lukisan, kampung suku bajo terlihat begitu kecil dari kejauhan. Pagi ini saya bersyukur telah menginjakkan kaki di Torosiaje dengan segala keramah-tamahan nya penduduk, Senyuman manis yang selalu tersungging di bibirnya dan salam hangat yang selalu saya dengar dari tiap perkataannya membuat saya semakin terlena dengan suasana seperti ini yang sangat jarang saya rasakan di kota besar. Yah inilah Torosiaje, Kampung Suku Bajo yang menghabiskan hidupnya di lautan nan elok dan cantik. Mereka adalah orang kaya menurut saya. Yah kaya...kaya akan keindahan alam yang tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menyaksikan kebesaran tuhan. 

Baca juga : Pulau Lahe, Pulaunya asik buat Leha-Leha


Warna air laut disini sangat lah bening, pasti kalian pun juga akan tergoda dengan kejernihan airnya. Bulu babi sudah berserakan dimana-mana bahkan bintang laut aneka ragam pun ada disini. Saya hanya bisa tersenyum melihat kejernihannya tanpa harus bisa turun dan renang disana. Karena di Kampung Suku Bajo belum ada saluran pembuangan jadi apa yang terjadi di atas perkampungan suku bajo, sudah dipastikan langsung dimakan ikan laut *if you know what i mean*. Sudah lah semua itu hanya jadi kenangan saja. yah kenangan, dimana saya sudah berkhayal akan renang dibawah peginapan macam di Maldives gitu deeehhhh.

Baca juga : Kecantikan Pulau Torosiaje Kecil



Mengurungkan niat untuk sekedar berendam saja disana membuat saya harus memutar otak mau ngapain lagi selama disana. tapi memang di kampung suku bajo ini paling cocok untuk bermalas-malasan karena cuacanya yang begitu hangat dan segar ditambah angin semilir yang membuat saya sempat merasa kantuk sesaat.

Waktunya sarapan, kami kedatangan tamu besar yaitu kepala desa yang bernama Jakson Sompat. gayanya bak seniman ulung dengan cara bicaranya yang begitu lantang namun tak membuat sisi kewibawaannya hilang begitu saja. Beliau menceritakan kembali kisah salah seorang warga suku bajo yang dapat hidup didalam laut.
Pak Jackson Sompat 
Sebelum melanjutkan ceritanya, dahulu kala panggilan untuk kepala desa yaitu Punggawa. Namun sekarang sudah berubah arti menjadi kepala desa. Pak Jackson Sompat ini adalah Punggawa yang ke 18. Punggawa sebelumnya menjabat selama satu tahun yang bernama Alm. Pak Sudiro Pakaya.

KISAH SENGKANG Si MANUSIA LAUT
Beragam keunikan yang terjadi disini, Salah satunya adalah Sengkang yang kehidupan sehari-harinya dilakukan dalam laut. Kebayang gak sih, kita aja paling lama bisa tahan nafas didalam air paling hanya beberapa menit saja. Namun Sengkang terbiasa kehidupannya berada didalam laut. Kisah Sengkang ini mencuri perhatian ribuan pengunjung saat adanya festival pesta rakyat yang dilakukan setahun sekali. kedatangan pengunjung kesana hanya sekedar ingin tau bentuknya Sengkang seperti apa. Sengkang hanya lah manusia biasa, memiliki panca indera yang sama seperti kita namun Sengkang tidak pernah menggunakan sehelai bahan pun di tubuhnya. Jadi saat acara berlangsung Sengkang berkeliaran tanpa busana. Penduduk menyambutnya dengan memberikan semua makanan yang mereka bawa. Sengkang tetap memakan apa yang kita makan juga. Kalau Sengkang kelaparan, terkadang beliau akan menyusup ke dapur warga yang terbuka. Namun yang di ambil hanyalah makanannya saja. Perlengkapan apapun tidak ada yang diambilnya. Kalaupun Sengkang ambil, itupun perlengkapan yang sudah rusak. Seperti contohnya piring yang berlubang, gelas yang retak atau sendok yang sudah tidak terpakai.

Sengkang hidup di dalam laut sejak umur 3 tahun, namun ada juga yang bilang dari umur 5 tahun. Simpang siur info yang kami dapatkan karena memang tidak ada kejelasan sejak kapannya Sengkang hidup di dalam laut. Kehidupan Sengkang ini pun mencuri perhatian pemerintah sehingga berencana membuat program yang berkerja sama dengan dinas sosial pemukiman yang berada di Torosiaje Jaya. Agar Sengkang pindah ke perumahan yang berada didarat. Sehingga Orang tua Sengkang pun ikut pindah ke pemukiman. Namun sayang, upaya itu pun tidak berhasil dilakukan pemerintah karena Sengkang tetap memilih hidup di lautan. Orang Tua Sengkang pun khawatir, maka dari itu mereka secara diam-diam kembali ke perkampungan suku bajo. 

Akhirnya karena kekhawatiran warga sekitar terhadap kehidupannya Sengkang. Mereka berinisiatif membuat sebuah gubuk dalam air yang terbuat dari beberapa lembar papan yang berbentuk segitiga agar Sengkang dapat hidup disana. Upaya itu pun tetap tidak berhasil juga. karena Sengkang suka hidup dengan kebebasan di dalam lautan. 

Sengkang pun sering kali menyusul kedua orang tuanya saat sedang mencari ikan di lautan lepas. Tau sendirikan di lautan lepas banyak hidup ikan predator, namun Sengkang selalu aman selama mengarungi lautan lepas. Penduduk sekitar meyakini bahwa ada mistis yang terjadi selama kehidupan Sengkang. Bahkan desa sebelah pun merasa terganggu dengan kehadiran Sengkang. Menurut informasi yang beredar bahwa Sengkang sudah meninggal karena pernah mereka tombak dan racuni. Namun setelah menghilang beberapa minggu kemudian, Sengkang muncul kembali. Maka dari itu, Sengkang disebut-sebut meninggal untuk kedua kalinya. Terakhir Sengkang mengakhiri hidupnya di tahun 2003 saat berumur 37 tahun. Kalau masih hidup hingga saat ini, Sengkang berumur 56 tahun.


Memang kisah Sengkang sangat menarik perhatian banyak orang karena ini bukan sejarah ataupun fiktif belaka. Semua kisah Sengkang adalah hal yang nyata. Memang di kampung suku bajo masih sangat mempercayai hal-hal yang berbau mistis.

Ada beberapa larangan yang harus diikuti oleh seluruh warga kampung suku bajo yaitu : 
  1. Larangan melaut pada hari jumat. Pernah ada salah satu warga yang melanggar peraturan tersebut. Akhirnya nelayan itu mengalami kejadian yang sangat mengerikan di tengah laut. Kapal yang dibawanya tenggelam akibat cuaca buruk dan tergulung oleh ombak. Semua perlengkapan alat pancingnya pun ikut tenggelam. Beruntungnya nelayan itu kembali dengan selamat dan mengharuskan berenang dari tengah laut menuju ke tepian. 
  2. Larangan menggunakan baju berwarna merah saat upacara adat atau acara besar lainnya. 
  3. Larangan meludah sembarangan karena disana masih banyak hantu lautnya

Torosiaje, kampung suku bajo memiliki keunikan tersendiri yang akan membuat kalian semakin tertarik untuk membahasnya lebih dalam lagi. Walaupun tempatnya sangat jauh dari perkotaan. Namun saya sama sekali tidak menyesal untuk berkunjung kemari. Warga sekitar suku bajo selain santun juga sangatlah ramah. Setiap mereka berjalan di depan kami, sudah dipastikan akan setengah menunduk dengan posisi tangan di depan seraya mengucapkan permisi. 

Oiyah ada satu hal lagi yang membuat saya kesal adalah mata mereka cantik-cantik sekaliiii. Aaarrrggghhh kesyeeellll!!!! tau gak alisnya tebel-tebel jadi gak perlu deh tuh pake pensil alis. Udah gitu bulu matanya panjang dan lentik, gak perlu deh tuh bulu mata syahrini. Bola matanya besar, jadi gak perlu deh softlens biar matanya terlihat besar. Saya...Dian Juarsa...Sangat kesal melihatnya. oke cukup sekian dan terima kasih :D



#Pohuwatogoesdigital
Desa Torosiaje, Kampung Suku Bajo
Dian Juarsa, 10 May 2017