Menu

Laman

  • loading...
Tampilkan postingan dengan label Nusa Penida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusa Penida. Tampilkan semua postingan

Betah renang cantik di Angels Billabong


-
-


Setelah puas berfoto di Kelingking Beach, kami pun melanjutkan perjalanan ke Angels billabong pada pukul 11.30 AM. Perjalanan kami tidak separah saat ke Atuh Beach. Jalannya masih datar namun sangat rusak sekali. Diharapkan memakai masker karena sangat berdebu,  jalannya pun masih terbilang lebih lebar ketimbang dijalan utama yang terbilang sempit. 

Beberapa kali kami menemukan tanjakan dengan jalan yang rusak karena teman saya Jeje trauma takut jatuh lagi. Akhirnya Jeje memutuskan untuk berjalan kaki dan sayalah yang mengemudikan motor sendiri agar dapat menjaga keseimbangan. Entah berapa kilometer kami harus berjalan di jalanan yang sangat rusak. Sempat beberapa kali kami hampir terjatuh tapi saya masih dapat menahan motor agar tidak benar-benar terbanting dari motor. Kedua kaki saya dapat menahan motor agar tidak terjatuh dengan bantuan kakinya Jeje yang juga sudah menapak jalan terlebih dahulu. Yaasss kami selamat terjatuh dari motor. 

Masih juga melanjutkan perjalanan hingga akhirnya kami bertemu jalan yang tidak berbatu namun berpasir. Pasir agak kemerahan, mungkin kalau sedang turun hujan pasir itu dapat berubah menjadi setengah berlumpur. Tanjakannya pun sangat curam, mendinglah kalau nanjak lalu jalannya lurus saja. ini tidak kawan-kawan....tanjakan yang saya tempuh langsung berbelok kekanan. Saya mengakui tidak sanggup jika membonceng Jeje saat tanjakan curam tersebut. karena selain bannya selip berkali-kali juga dapat menyebabkan terjatuh untuk kesekian kalinya. Saya pun sendiri membawa motor saat tanjakan dan benar saja beberapa kali motor hilang keseimbangannya karena ban depan yang sangat licin sehingga membuat saya hampir saja terjatuh beberapa kali. Beruntungnya sih tidak terjatuh beneran karena kedua kaki saya selalu siaga menapak jalan yang berpasir sehingga saat akan terjatuh saya bisa dengan sigap mengatasinya.

Tak jauh dari tanjakan curam yang amit-amit harus dilewati lagi, kami bisa melihat dari kejauhan ada beberapa penjaga yang telah berdiri menyambut kedatangan kami. Gak denk...Sebenernya menunggu kami untuk bayar tiket masuk  hihihihii...


Sama halnya seperti di kelingking beach, Angel's Billabong pun hanya mengenakan biaya parkir saja Rp. 5.000 dan lokasi untuk menuju Angel's Billabong masih harus ditempuh dengan motor sejauh 600 meter. Motor sudah banyak yang berjajar rapi di parkiran bahkan mobil pun sudah ada beberapa yang sudah stand by disana. Sudah dipastikan banyak pengunjung yang berdatangan. Masih harus berjalan kaki sejauh 300 meter. Jalan yang kami tempuh terbilang aman walaupun bukan berupa tangga, hanya gundukan tanah dengan banyaknya ilalang disamping kanan kiri kami dengan jajaran pohon tandus.



Ada dua pilihan yang bisa kami kunjungi dalam satu waktu. kami berdua lebih memilih untuk ke Angel's Billabong karena sedari kemarin kami belum juga merasakan renang di pantai dan kini saatnya kami harus mencoba bermain air di Angel's Billabong.

Pukul 12.30 PM Sesampainya di Angel's billabong pengunjung yang kami lihat mayoritas bule. Tidak ada pengunjung lokal yang berani turun kebawah. mereka lebih memilih berfoto dari atas tebing. Saya pun heran mengapa pengunjung lokal tidak ada yang mau turun sedangkan dari yang saya lihat kondisi Angel's Billabong sangat tenang dan tiak ada deburan ombak yang masuk dari arah garis pantai.


Saya dan jeje sudah tidak sabar untuk segera turun kebawah, memang untuk menuruni tebing yang sangat tajam diperlukan extra hati-hati karena sekalinya terpeleset itu akan sangat berbahaya. banyak sekali bebatuan tajam yang begitu runcing saat akan turun kebawah. Bahkan saya pun harus turun sembari duduk dengan posisi kedua tangan berada di samping badan saya dengan cara memanjangkan kaki kebawah terlebih dahulu.

Saat menemukan dataran yang dapat kami tapaki dan duduki, dengan segera tas bawaan kami disimpan disana. Kami pun segera melepas pakaian agar dapat berenang di Angel's Billabong. Jeje sangat tidak sabar untuk segera turun terlebih dahulu ke Angel's Billabong.



Saya tidak langsung turun melainkan foto-foto kondisi Angel's billabong dengan panorama keindahannya yang sangat luar biasa. Bagaikan sebuah teluk dengan kondisi air yang terjebak di suatu kubangan dengan air yang sangat jernih. Banyak pengunjung yang memberanikan diri untuk berjalan keujung untuk melihat lebih dekat deburan ombak yang tidak masuk kedalamnya. Beberapa kali ada tour leader yang meneriaki tamu mereka untuk berhati-hati karena di Angel's Billabong ini banyak sekali tamu yang terseret ombak sehingga tidak dapat diselamatkan.

Kami berdua sebenarnya termasuk beruntung karena Angel's Billabong sedang surut dan tidak ada deburan ombak yang masuk kedalam sehingga kami bisa bersantai sejenak digenangan air yang begitu jernih. Saya sempat berpikir untuk tidak mau turun karena luka yang belum kering. kebayangkan perihnya seperti apa. Sampai akhirnya Jeje berkali-kali teriak agar saya mau segera turun kebawah. Akhirnya emang saya itu paling gak kuat lihat air jernih di anggurin gitu saja. Saya pun memberanikan diri untuk nyemplung kebawah.

Saya cuma berdiri aja melihat kondisi di Angel's Billabong. gak lama kemudian Jeje usil menciprat air ke luka saya yang masih basah. Yaaaasss cenut cenut berasa banget tapi akhirnya saya paksakan saja untuk nyemplung biar perihnya sekalian gitu. Tapi lama kelamaan perih dari luka saya menghilang dalam sekejap. Ternyata tidak hanya kita berdua saja yang kakinya luka. Ada juga beberapa bule yang juga mengalami hal yang sama dengan kami.



Pukul 13.30 PM kami harus mengakhiri bermain air di Angel's billabong. Kami tak sadar kalau waktu berjalan begitu cepat, kami pun tak sempat untuk naik keatas menuju Broken beach. Memang sangat disayangkan karena waktu yang kami miliki tidak memungkin kan untuk melanjutkan ke destinasi wisata selanjutnya.

Saat akan kembali ke Pelabuhan Toyapakeh, Saya sudah sangat lapar sekali. Tidak mungkin kalau saya harus memaksakan jalan ke Pelabuhan dengan kondisi perut kosong. Sedangkan perjalanan kami masih sangat jauh, badan saya pun terasa begitu lemas karena kehabisan energi. Akhirnya kami istirahat sejenak di warung satu-satunya yang berada dekat posisinya dari Angel's Billabong. Saya memesan mie goreng dengan harga Rp. 15.000/porsi. Yah namanya juga di warung seadanya jadi mie goreng yang saya makan tidak dimasak dari kompor melainkan hanya direndam saja dengan air hangat sehingga rasa mie yang saya makan sedikit keras #huft



Sempat sedih karena tujuan utama saya ingin melihat keindahan Broken Beach dari ketinggian sirna begitu saja. Karena sebelum saya melanjutkan perjalanan, saya harus bisa mengestimasi waktu agar tidak terlambat kembali ke Pelabuhan Toyapakeh. Jadwal keberangkatan kami menuju Sanur yaitu pada pukul 15.30 PM. Sedangkan perjalanan kami saja bisa memakan waktu sejam lebih. maka dari itu, kami harus mengurungkan niat untuk menuju Broken beach. mungkin next time saya akan kembali ke Nusa Penida.

Melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Pelabuhan Toyapakeh dengan kondisi motor kami telah kehabisan bensin. Kami beruntung sekali karena penjaga tiket masuk Angel's Billabong menjual bensin dengan harga lebih mahal dari biasanya yaitu Rp. 25.000/botol yang berukuran 1 liter. Tak masalah lebih mahal asalkan jangan sampai kami kehabisan bahan bakar ditengah jalan yang begitu sepi.

Saat melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Toyapakeh, kami berbarengan dengan bule yang juga mengendarai motor secara berama-ramai. Jumlah mereka ada 5 motor sedangkan kami 1 motor. Kami seperti konvoy saja saat perjalanan menuju Pelabuhan Toyapakeh. Sebenarnya kami berdua merasa beruntung karena setidaknya mereka jalan terlebih dahulu sehingga jalan sulit yang mereka lewati bisa saya kondisikan terlebih dahulu. Pada saat tanjakan berpasir yang sangat licin ada satu motor bule yang dikendarai terjebak di gundukan pasir yang begitu tebal. Mereka kesulitan menaiki motor dimana ban belakang terjebak digundukan tersebut. Saya pun tidak berani melewatinya sehingga kami berdua menunggu kondisi motor mereka naik terlebih dahulu. Akhirnya cowo bule itu pun dapat mengkondisikan motornya untuk naik.

"Haiiii ladieeessss be careful!!"
"Okeee...Thank you"

Bule itu meneriaki kami agar berhati-hati, mungkin mereka khawatir dengan kita berdua karena kami cewe-cewe tangguh yang boncengan naik motor. Hakhakhak...Sedangkan mereka hanya 2 motor saja yang boncengan, selebihnya bawa motor masing-masing. Tapi tidak lama kejadian itu, kami berpisah karena mereka konvoy jadi harus saling tunggu satu sama lain. Memang perjalanan secara beramai-ramai itu ada plus minus nya sih. Plus nya kalau ada kejadian apa-apa selama diperjalanan sudah pasti ada yang menolong. Tapi minusnya harus sabar saling tunggu satu sama lainnya.

Pukul 14.38 PM Akhirnya kami tiba di Pelabuhan Toyapakeh lebih cepat dari waktu yang kami perkirakan. Tapi barang bawaan kami masih juga belum tiba dari penginapan. Setengah jam kami menunggu belum juga melihat kedatangan Bli Mustika yang mengantarkan  tas bawaan kami. Sedangkan nama saya sudah dipanggil. Sempat bingung kenapa nama saya sudah dipanggil, jadwal keberangkatan kami kan pukul 15.30 PM. Akhirnya kami pun complain harus sesuai jadwal dari awal saya beli tiket karena tas bawaan kami pun masih juga belum tiba. Akhirnya mereka pun melewatkan kami untuk naik speedboat pada pukul 15.00 PM. Kalian harus lebih aware yah sama jam keberangkatan kalian. Karena memang mereka sering kali akan menaiki penumpang yang telah siap saat itu juga.

Reminder saja buat kalian, jangan pernah telat semenit pun karena keberangkatan speedboat menuju Sanur tidak pernah terlambat bahkan bisa lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Selalu ingat awal mula pembelian tiket speedboat. karena mereka biasa memasukkan penumpang tidak sesuai jadwal yang diinginkan. kalau memang sudah ada di pelabuhan dan tempat duduk speedboat masih ada yang kosong. tak menutup kemungkinan nama kalian akan diikutsertakan juga. Iya kalau udah siap sih gak masalah, nah ini kan tas bawaan kami belum tiba di Pelabuhan Toyapakeh.

Sekian sudah perjalanan kami selama 2 hari 1 malam selama di Nusa Penida. Pesan kesannya adalah jangan lah kamu ke Nusa Penida hanya sebentar saja karena banyak sekali spot destinasi wisata yang kece selama disini dan wajib kamu kunjungi. bahkan ada juga loh spot untuk snorkelingnya seperti Manta Point pun juga ada disana. Doakan saya agar berjodoh untuk ke Nusa Penida kembali. Amiiinnnn...



Cheers,

Dian Juarsa
4 Oct 2017

Budget cuma GOCENG bisa menikmati pesona indahnya Kelingking Beach


-
-

Pagi yang cerah...Burung berkicau, ayam berkokok dan gemuruh deru ombak yang berkejaran ke pesisir pantai. Seakan membuat mood di pagi hari terasa menyenangkan. Sarapan kami ditemani hangatnya sinar matahari pagi dengan pemandangan perumahan desa beserta aktivitas mereka dengan garis pantai yang berwarna biru membuat mata kami seakan dimanjakan oleh pemandangan yang ada didepan mata. 

Rencana kami yang awalnya akan ke Kelingking Beach jam 7 pagi akhirnya ngaret karena suasana seperti inilah yang jarang kami dapatkan di Jakarta. Kami sangat menikmati nuansa pagi di Kabeh Garden Jati Villa dimana teriknya matahari pagi yang begitu hangat.

Kami sudah merapikan barang bawaan kami karena tidak memungkinkan kalau sampai harus kembali lagi ke penginapan hanya untuk mengambil barang bawaan kami. Walhasil barang kami dititipkan ke receptionist penginapan dimana pada saat sore hari barang kami akan diantar ke Pelabuhan Toyapakeh. Jadwal keberangkatan kami untuk menuju Pelabuhan Sanur yaitu pada pukul 15.30 PM dengan menggunakan Speedboat Angel's Billabong Rp. 100.000/orang. Beruntungnya kami menginap di penginapan yang menyediakan fasilitas antar jemput tamu. Jadi walaupun yang mereka antarkan bukan tamu melainkan barang bawaan kami, Semuanya tidak jadi masalah.
***

Pukul 08.35 AM Kami sudah siap untuk melakukan perjalanan menuju Kelingking Beach dan Angel's Billabong. Semoga dalam waktu yang sangat singkat, kami bisa menyambangi kedua tempat dengan waktu perkiraan yang telah kami tentukan. karena waktu yang kami miliki hingga sore hari hanya 6 jam saja. Agak percaya diri sih kami, karena kan dalam waktu 6 jam seharusnya bisa keburu untuk kedua tempat tersebut.

Melewati jalan yang berlawanan dari Atuh Beach, jalan yang kami tempuh sangatlah mulus dan tidak ada hambatan sedikitpun. Perjalanan kami selalu memiliki keindahan yang tiada hentinya. Pohon berjajar begitu rindangnya disertai lautan biru yang terus ditemani gulungan ombak yang membuat suara deburan ombak bagaikan musik yang menemani perjalanan kami.

Belum juga berapa ratus meter kami berjalan ada anjing yang berlari kearah depan kami membuat kami shock dan saya pun dengan cepat menggenggam rem motor agar tidak menabrak anjing yang loncat seketika ketengah jalan. Degdegan campur kaget membuat saya tak dapat bersuara sedikit pun. Gak mungkin saya marah-marah gak jelas karena perbuatan anjing tersebut. Lagipula memang hal yang lumrah kalau di Nusa Penida ini seringkali anjing berlalu lalang dengan santainya ketengah jalan.

Melanjutkan perjalanan kembali dengan kecepatan 40km/jam tanpa jeda sedikitpun karena memang jalanan sangat sepi dan sesekali kami berpapasan dengan mobil. Tapi yang lebih mengerikan yaitu saat berpapasan dengan mobil dari arah berlawanan karena saat mobil melintas mereka tidak akan mengurangi kecepatan bahkan sebaliknya sehingga membuat saya harus berhenti sejenak karena mobil selalu mengambil space jalan kami. Padahal setiap berpapasan dengan mobil, saya selalu sengaja minggir sekali. Saking kencangnya mobil itu, angin yang berhembus terasa sangat kencang sekali.

"Cucur sekarang kalo papasan sama mobil kita ngalah mulu aja deh"
"Iya mau gak mau, barbar banget supir disini yah"
"Iya, gw ngeri aja cuurrr"
"Sama gw juga ngeri"

Yaaahhh begitulah percakapan kami selama diperjalanan saat berkali-kali papasan dengan mobil dari lawan arah. Perjalanan kami memang hanya mengikui jalan saja tapi saat kami menemukan pertigaan jalan ditambah lagi sinyal GPS kami hilang. kami pun kebingungan. Jalan lurus terus kearah kantor polisi sangat jelek sekali tapi kami tidak yakin kalau menuju Kelingking Beach kearah sana sedangkan jika kami ambil kearah kanan jalan yang kami tuju masih sangat mulus sekali. Karena kami tidak yakin, kami pun menjawab sapaan dari 2 orang bapak yang baru saja keluar dari kantor polisi.

"Mau kemana dek?"
"Pak kita mau ke Kelingking Beach, lewat mana ya?"
"Oohh lewat sini aja yah nanti ikutin jalan saja"
"Baik pak terima kasih"

Akhirnya kami diberikan petunjuk bahwa kami harus kearah kanan dimana jalanannya masih sangat mulus. Pemandangan kami selama dijalan hanyalah rumah-rumah warga dengan pohon yang sangat rindang. Saking rindangnya, udara pun terasa begitu sejuk. namun tak lama kemudian kami harus dihadapi kembali dengan pertigaan. kalau lurus saja ke arah Klungkung, kalau belok kanan menanjak keatas kearah Bunga Mekar. Kami mulai kembali melihat sinyal handphone yang naik turun. beruntungnya kami bisa mendapatkan sinyal walaupun mati nyala. Ternyata kami harus ke arah yang menunjukkan jalan ke Bunga Mekar. Darisana lah perjalanan kami mulai terlihat bergelombang karena banyaknya bebatuan dan jalan berlubang. 

Namun tak lama kami mengalami jalan yang rusak hingga akhirnya kami menemukan kembali jalan yang mulus dengan tanjakan dilengkapi penunjuk arah belok kanan ke arah Angels Billabong dan ke kiri ke arah Kelingking Beach. Kami memilih untuk belok kiri terlebih dahulu karena memang saat akan ke Kelingking Beach kami tidak berencana untuk menuruni puluhan anak tangga melainkan hanya berfoto sesaat saja selama disana. 

Lubang yang kami lewati tidak terlalu banyak dan jalanan pun masih terbilang aman. Tak ada penunjuk arah lagi ditambah banyak sekali ilalang yang menghalangi perjalanan kami. bahkan saat ada tanjakan kami sempat shock!!! Ada Sapi berwarna coklat berhenti ditengah jalan melihat kami dan kami pun berhenti dadakan karena kaget dengan keberadaan sapi yang melotot ke arah kami karena kaget. Kami berdua sempat melongo dan saya pun sempat menahan napas karena takut sapinya mengamuk. Kita tidak melanjutkan perjalanan, sama-sama terkesima dengan keberadaan kami masing-masing.

"Tar ya Je, nunggu ni sapi lewat dulu"
"Iya currr"
"Kok dia malah bengong ya, gw takut nih sapi ngamuk kearah kita Je"
"Gak cuurr, kayanya gak deh"

Kami pun bisik-bisik agar sapi tidak kaget dengan respon kita jika membuat sapi merasa terganggu. Entah berapa lami kami saling pandang akhirnya sapi itu pun mengalah dan melengos pergi ke semak-semak. Alhamdulillaaaaahhhhhh kami berdua selamat dari amukan sapi coklat yang kaget dengan kedatangan kami. Pantas saja selama dijalan banyak sekali ranjau sapi. Hati-hati ya guys kalau jalan menuju Kelingking beach. Walaupun jalanananya sepi, belum tentu tidak ada yang melintas ke tengah jalan. Tetap Waspada!!!

Tak lama diperjalanan kami melihat bapak setengah baya sedang memegang kertas ditanganya. Kami pun langsung belok kanan karena yakin disana lah Kelingking beach berada. Benar saja, kami sampai ditujuan. Sudah banyak mobil dan motor yang telah parkir. Tanpa pikir panjang kami langsung cari spot yang kece untuk mengabadikan moment dimana Kelingking Beach ini memang sangat indah dari ketinggian.
Kelingking beach dari ketinggian
Pohon Tandus yang jadi incaran para pengunjung
Tidak ada biaya retribusi disini, kami hanya membayar parkir motor saja Rp. 5.000. Tempat parkir pun cukup luas. Kami tak perlu bingung mencari parkiran. Motor dan mobil sudah terjajar rapi dan sedikit padat. Banyak sekali pengunjung yang telah berdatangan sedari pagi. Sebelum kami menuju pemandangan yang luar biasa dari ketinggian. kami sempat berfoto di salah satu pohon tandus yang setiap tahunnya terus berubah. Pohon tandus ini memang selalu dijadikan spot wajib bagi siapapun yang datang kemari. Naik keatas dengan menggunakan tangga yang telah disediakan memang dibutuhkna nyali yang besar. tidak semua orang berani naik diatas pohon yang menurut saya tidak terlalu tinggi. Untuk menaiki Pohon Tandus ini pun juga tidak dikenakan biaya sepeser pun tapi ada satu bale dimana kita bisa berfoto dari atas tanpa gangguan dari pengunjung lainnya dengan biaya Rp. 5.000.

Spot foto bagi para pengunjung yang dibatasi kayu


Karena diburu oleh waktu yang membuat kami tak bisa terlalu lama bersantai disini, kami pun mengakhiri kunjungan sesaat. Tak sampai sejam kami menghabiskan waktu disini. Waktu terasa begitu cepat, kami pun harus bergegas untuk dapat menuju ke Angels Billabong karena posisinya masih sangat jauh untuk dapat menuju kesana. Bermodalkan GPS yang kadang sinyalnya naik turun tak membuat kami mengurungkan niat perjalanan kami untuk menuju kesana. Kami berdua tetap dengan rencana awal walaupun masih punya waktu hingga 3 jam kedepan. kami gunakan waktu yang tersedia sebaik mungkin agar tujuan awal kami bisa terealisasikan. Sebenarnya ke Kelingking Beach tuh asik banget karena hanya bayar parkir aja dan tidak ada biaya tiket masuk. Sayangnya saya tidak sempat untuk dapat turun kebawah yang diharuskan menuruni beberapa anak tangga. Doakan saya semoga berjodoh dengan Kelingking beach tahun depan. Amiiiinnnn..

Naaahhh jangan ragu untuk datang ke Kelingking beach karena hanya merogoh kocek Rp. 5.000 saja kami bisa menikmati keindahan kelingking beach dari ketinggian. Untuk biaya bensin kan cuma Rp. 20.000 dan itu pun sudah full kami isi kemarin. Muraaahhhh yaaaaa...



Cheers,

Dian Juarsa
3 Oct 2017

Keindahan panorama Rumah Pohon Molenteng adalah Pulau Seribu, Nusa Penida


-
-

Indonesia memang terkenal akan keramahan penduduknya. Terbukti sudah banyak wisatawan yang menyukai Indonesia karena keramahan penduduk dan indahnya alam Indonesia namun sayangnya aksi teror lah yang membuat Negara Indonesia seakan tidak aman untuk dikunjungi. 

Bali termasuk tempat wisata yang sangat digandrungi oleh para wisatawan asing. Memang eksotisnya Pulau Bali selalu menawarkan hal baru bagi para wisatawan. Tidak hanya alamnya saja yang cantik, kehidupan malamnya pun seakan memberikan warna yang begitu menggiurkan bagi para pengunjung. Bali seakan tak ada kata matinya, selalu ada saja hiburan yang tersajikan setiap hari. 

Nah kalau ke Bali sesekali coba deh nyebrang ke Nusa Penida. Pantai disana tak kalah cantiknya seperti pantai yang ada di Bali. Penyebrangan dari Pelabuhan Sanur hanya memakan waktu sejam perjalanan menuju Pelabuhan Toyapakeh (Baca Disini)

***

Ada baiknya setelah sampai di Nusa Penida langsung ke bagian barat setelah itu ke bagian timur. Tapi karena penginapan kami berada di bagian timur. Walhasil kami harus berkunjung ke tempat wisata yang berada di timur.

Perjalanan kami yang penuh rintangan ke arah Pantai Atuh memang memberikan kenangan luka di lutut. Setelah puas mengunjungi Pantai Atuh yang tengah surut (Baca Disini). Kami sempat akan balik ke penginapan karena memang saran ibu warung yang mengatakan bahwa ada tempat yang lebih kece lagi yaitu Rumah Pohon. Kami sudah menyerah karena kami tak tahu persis tempatnya dimana karena hari semakin sore. Kami sempat diberi wejangan, kalau bisa jangan lebih dari jam enam sore untuk sampai di penginapan karena jalanan sangat gelap dan tidak ada penerangan.

Saat setengah perjalanan, kami kembali dipertemukan dengan turunan yang terjal. Jeje sudah trauma karena terjatuh dari motor. Memang Jeje lebih memilih untuk turun dari motor daripada harus merasakan jatuh lagi untuk kedua kalinya. Namun saat Jeje turun dari motor, ada Bli yang menyapa kami dari arah kiri.

"Aduuuhh kakinya kenapa itu berdarah?"
"Abis jatuh Bli pas ke Pantai Atuh"
"Sekarang kalian mau kemana?"
"Palingan balik ke penginapan aja. Soalnya kami gak tau Rumah Pohon dimana Bli"
"Yaudah saya antar ke Rumah Pohon yah, dekat kok dari sini"
"Waahh beneran Bli, yaudah oke Bli boleh"

Tanpa pikir panjang kami pun mengiyakan ajakannya Bli. Jeje dibonceng dengan Bli dan saya mengikutinya dari belakang. Namanya juga jalan yang sangat rusak dan saya terbilang newbie kalau jalan didaerah sini. Bli itu melaju sangat kencang dan saya ditinggal begitu saja. Untungnya keberadaan mereka masih terpantau oleh pandangan saya. Walaupun sudah tertinggal sangat jauh setidaknya saya tau harus berbelok kearah mana. Lagipula untuk menuju Rumah Pohon molenteng ini ternyata kami hanya berbelok ke kanan saja karena kalau belok kiri itu ke arah Pantai Atuh. 

Nah saat belokan ke kanan jalanannya tidak separah saat kami akan ke Pantai Atuh. Jalan landai yang berpasir masih terbilang aman untuk dilewati bahkan untuk melaju lebih cepat pun tak jadi masalah. Kecepatan maksimal saya hanya 40km/jam. Beda halnya saat ke Pantai Atuh dengan kecepatan 20km/jam itu pun beberapa kali saya tidak gas motor sama sekali karena motor melaju dengan sendirinya saat turunan terjal. Tangan saya harus lihai memainkan rem kedua tangan.
Rumah Pohon Molenteng

Akhirnya tiba juga di parkir motor yang dikenakan biaya Rp. 10.000/orang. Biaya sudah termasuk parkir motor karena kami tidak dikenakan biaya parkir lagi disini.

Bli yang mengantarkan kami tidak ikut turun kebawah karena lebih memilih menunggu kami diatas saja karena banyak temannya yang sedang bermain disana.

"Bli tinggalin kita aja kalau emang kelamaan yah"
"Aaahh lama juga gak apa-apa kok, saya tungguin disini"
"Gak apa Bli, kita gak enak tar makin ngerepotin kalo ditungguin"
"Yaudah turun aja dulu tar kesorean lagi"

Karena permintaan Bli seperti itu, yasudahlah kami turun sekarang juga karena memang hari semakin sore. Angin sore hari di Rumah Pohon Molenteng sangat kencang. Banyak pengunjung yang telah naik dan akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Namun kami berdua baru akan turun ke bawah. Tak apalah, setidaknya saat sampai dibawah kondisinya sangat sepi dari pengunjung lain.   
Railing tangga berupa tali tambang

Saat akan turun melewati tangga yang alakadarnya, kami berdua sempat terdiam sejenak karena memikirkan kembali apakah kami sanggup melewati anak tangga yang terlihat tidak aman ini, apalagi railing tangganya berupa tali tambang. Ditambah lagi luka kami yang masih membuat kaki terasa lemas karena cenat cenut. Tak lama kemudian lamunan kami berdua terpecahkan karena ada yang menyapa kami dari samping.

"Kaki kalian kenapa? udah di obatin?"
"Jatuh pak dari motor. Udah dikasih alkohol sih"
"Tapi gak apa-apa kan kakinya. Apa masih sakit?"
"Lumayan pak masih cenut-cenut hehe"
"kalau mau turun hati-hati yah. Silakan kalian jalan duluan"
"Iya pak terima kasih"

Sempat mengobrol sebentar dengan bapak yang berbaik hati ini yang mau menjaga kami. Tapi tak lama kemudian, Kami tidak enak dengan bapak yang sepertinya terlihat terburu-buru.

Kami kebanyakan terdiam sejenak karena memang setiap turun harus menahan rasa sakit. Akhirnya kami pun gak enak dengan bapak yang ada dibelakang kami.

"Pak duluan aja, kami masih mau foto-foto dulu disini"
"Oh gituuu..yaudah saya duluan ya dek. Saya sudah ditunggu dibawah"
"Iya pak mariiii"

Memang penduduk di Nusa Penida ini sangat baik, ramah dan perhatian. Saking perhatiannya, lutut kami yang terluka selalu menjadi sorotan utama. Memang luka kami terlihat besar di bagian lutut. Makanya tiap orang yang melihat kondisi kami seakan mengasiani kami. Karena memang lukanya tidak kami perban. Dibiarkan begitu saja biar gak blenyek (kalo gak ngerti artinya, japri aja :p). 

Rumah Pohon terlihat dari ketinggian

Dari ketinggian, Rumah Pohon sudah terlihat dengan sinar matahari senja yang begitu cerah seakan matahari masih belum mau terbenam. Kedatangan kami sore itu tepat pukul 16.45 PM. Waktu yang sangat singkat unuk menikmati keindahan Pulau Seribu. Kami hanya memiliki waktu sejam saja untuk menikmati keindahan panorama Pulau Seribu.

Satu persatu tangga kami lewati secara perlahan, setapak demi setapak kami jajaki anak tangga yang masih berupa batu alam. Belum ada tangga yang telah direnovasi. Saat berpapasan dengan pengunjung lain, kami memilih untuk berhenti sejenak dan membiarkan pengunjung lain untuk terlebih dahulu naik keatas. kami tidak ingin terlalu terburu-buru dalam mengambil langkah. Karena akan sangat berbahaya jika memaksakan kaki untuk menuruni tangga secara cepat.
Panorama Pulau Seribu dari samping

Tak lama kami berhenti ada jalan ke arah kiri dengan  pemandangan Pulau Seribu yang begitu cantik nan elok. Deru ombak yang terus berkejaran ke pesisir pantai terlihat begitu indah dari ketinggian. Banyak Tebing menjulang tinggi seakan terlihat seperti imitasinya Wayag Raja Ampat tapi memang tidak sebanyak disana. 

Banyak pengunjung yang mengklaim tidak perlu jauh-jauh ke Raja Ampat karena di Nusa Penida pun juga ada pemandangan yang sama. Sebenarnya setiap destinasi wisata memiliki keunikannya tersendiri. Walaupun Pulau Seribu terlihat hampir sama dengan Wayag Raja Ampat, pasti banyak perbedaan saat mengunjungi destinasi wisata keduanya. Tak perlu berkecil hati dengan biaya yang sangat mahal untuk dapat mencapai kesana. Selagi ada niat pasti ada jalan kok untuk bisa menuju kesana. Asalkan yakin saat itu akan datang diwaktu yang tepat. karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Semangat!!!

Keindahan Panorama Pulau Seribu
Rumah Pohon Molenteng

Masih melanjutkan perjalanan untuk terus menuruni tangga yang alakadarnya. Kami berkali-kali berpapasan dengan pengunjung dan dengan sapaan yang sama "kakinya kenapa mba?". Kami pun menjawab berkali-kali dengan jawaban yang sama "Jatuh dari motor". Hahhahaa... 

Walaupun agak bosan dengan jawaban yang berulang kali kami ucapkan tapi setidaknya jadi ada rasa iba sama diri sendiri. Sedih banget yaaa sampai segitunya melihat luka kami yang tidak seberapa ini. hihihi..


Akhirnya beberapa meter kami menemukan jalan yang landai. Nah dijalan yang landai ini banyak bapak-bapak yang sedang mengerjakan Rumah Pohon. Disana sudah ada 2 Rumah pohon yang telah di tempati wisatawan asing. Walhasil bagi pengunjung lain yang ingin berfoto di Rumah Pohon tak dapat menginjakkan kaki disana. Katanya kalau sedang tidak ada pengunjung yang menginap disana. Rumah Pohon itu bisa untuk dijadikan lokasi foto yang instagrammable loh.

Keindahan Pulau Seribu dari ketinggian

Biasa sinar matahari sore berwarna keemasan

Kembali dengan tanjakan sekitar 50 meter untuk mencapai bukit yang dapat melihat keindahan Panorama Pulau Seribu dari ketinggian. Kami berpapasan dengan dua cewek asli dari Nusa Penida. Kembali mereka menanyakan kondisi lutut kami. Ternyata mereka orang asli dari Nusa Penida yang sama sekali tidak pernah mau mengunjungi Pantai Atuh karena tidak berani melintasi jalan yang berpasir dan berbatu itu. Mereka tau kalau kesana banyak sekali yang kecelakaan karena terjatuh dari motor. 

Mereka bilang kita berdua ini cewe yang pemberani. Sebenarnya kalau dipikir-pikir lebih tepatnya kita berdua itu cewek nekat yang tidak tahu kalau medan perjalanannya akan separah itu. Memang teman saya sudah mewanti-wanti kalau disana lebih baik naik ojeg aja atau gak bawa motornya jangan boncengan karena berbahaya. Tapi saya mengabaikan semua pesan teman saya yang terlebih dahulu kesini. 


Ternyata benar saja, banyak pengunjung wisatawan asing yang menggunakan motor sendiri-sendiri kalaupun boncengan pasti cowok cewek. Memang cuma kita berdua aja cewek yang berani boncengan keliling Nusa Penida. Hahaha..

Ada Pura di bukit tertinggi dari Rumah Pohon

Dimana ada Pura disana pasti ada Pantai. Disinilah kami sempat berisitirahat sejenak sebelum kami kembali menuju parkiran. membayangkannya saja untuk naik kembali pun malas sekali. rasanya ingin sekali ada eskalator disini. Haha..

Menikmati semilir angin yag sepoi-sepoi kami memandangi keindahan Pulau Seribu dari ketinggian. Langit seakan terasa mulai gelap karena biasan mentari senja hampir tidak terlihat. Kami hanya memiliki waktu yang tak banyak lagi. Melihat keatas tebing dengan tatapan nanar dimana tempat kami parkir motor sudah membuat kami membayangkan rasa capeknya. Tapi kami hanya berdua saja sedangkan dijalan akan semakin gelap dan akan membahayakan kami berdua jika tidak bergegas kembali ke Kabeh Jati garden villa.
Muka lelah Jeje dengan lipsticknya yang cetar
Terpaksa...yah Terpaksa. Kami terpaksa harus naik turun bukit agar cepat sampai di parkir motor. Setiap kaki melangkah yang saya lihat hanyalah jajaran batu yang tersusun menyerupai tangga. Tak ada sekalipun saya ingin melihat keatas karena akan membuat harapan saya sia-sia. Terus menaiki tangga tanpa memikirkan apakah masih jauh atau tidak. Dipikiran saya hanyalah kata-kata untuk motivasi diri sendiri "Hayok Dian kamu bisa!!".

Tak disangka ternyata menaiki tebing dengan susunan anak tangga yang tersusun alakadarnya bisa cepat sampai tanpa melihat keatas. Sebenarnya semua itu kembali oleh pola pikir kita sendiri. kalau kita terus mengharapkan sesuatu tanpa aksi yang nyata. hasilnya ya akan nihil. Tapi kalau kita lalui rintangan yang ada didepan mata tanpa memikirkan kendala apa yang akan terjadi karena sesuatu yang terjadi adalah proses dalam pencapaian apa yang kita inginkan. pasti akan cepat sampai tujuannya.  

Biasan sinar mentari senja


Akhirnya sampai juga diatas tebing, Kami masih tak sanggup melanjutkan perjalanan ke parkiran karena nafas tersenggal-senggal dan butuh air minum karena saat perjalanan turun kebawah tidak membawa air minum. 

Ada sebuah warung yang menjajakan aneka cemilan dan minuman. Istirahat sejenak sembari menikmati langit sore yang begitu indah membuat kami enggan untuk beranjak. Namun lagi-lagi ingatan saya mulai teringat kembali bahwa kami tidak boleh pulang lewat dari jam enam sore karena kondisi jalan sangat gelap dan tidak ada penerangan selama dijalan. 

"Je kita jalan sekarang yuk"
"yaudah yuk balik sekarang"
"kira-kira Bli yang tadi nungguin kita gak ya?"
"Kalo dia pria sejati pasti nungguin kita kok"
"Oke..Kita lihat aja nanti. Nungguin kita apa gak?"

Eng ing eeeennngggg...Bli nya masih ada loh. Ternyata dia Pria Sejati karena masih nungguin kita sampai sesore ini. hahahaha warbiyasa ya bli ini.

Kami berdua tertawa lepas karena celetukan kita terbukti juga kalau Bli masih menunggu kami. Bli menemani perjalanan kami hingga pertigaan desa yang sudah berjalan aspal. Dari obrolan Jeje dengan Bli tadi, ternyata namanya Bli Gede yang melontarkan pertanyaan : 
"Bagaimana konsep Rumah Pohon kami mba"  

Sempat bingung mengapa Bli Gede menanyakan konsep dari Rumah Pohon tersebut. Ternyata Bli Gede ini pemilik dari Rumah Pohon Molenteng dan juga warung yang kami singgahi. Bli Gede bercerita bahwa dulunya pernah bekerja di Yunani dan kapal pesiar. Dia juga lulusan dari Akademi Pariwisata. Karena sering jauh dari keluarga. Akhirnya Bli Gede memiliki ide untuk membuat rumah diatas pohon yang akhirnya disewakan untuk penginapan, hingga akhirnya kini memiliki 2 Rumah Pohon dan akan dibuat 2 Rumah Pohon baru selanjutnya karena tidak disangka peminat wisatawan semakin meningkat sehingga rumah pohon masih dalam proses pembuatan.

***

Jadilah pribadi yang ramah. Kita tidak pernah tau akan bertemu siapa diluar sana. Jangan menilai orang dari penampilannya saja. Tapi nilai dari ketulusannya. 

Kami berdua bersyukur karena selama di Nusa Penida dengan kondisi jalan yang selalu sepi selalu ada saja pertolongan yang kami terima dari warga sekitar. Entah itu saat terjatuh dari motor, Hampir tersesat dijalan, Ada yang mau mengantarkan kami saat kesusahan, Membantu saya saat kesulitan parkir motor dan mengobati luka kami. Semuanya tulus kami rasakan dari bantuan mereka. 

Memang di kepulauan Bali ini penduduknya percaya akan KARMA. Kalau kamu baik sama orang lain, maka kebaikanmu akan dibalas dengan yang lain. Begitu pun sebaliknya. Pantas saja saat saya menceritakan kebaikan yang kami terima dari penduduk di Nusa Penida. Teman saya bilang "Berarti kamu orang baik Dian". Aaaahhh kok ya jadi geer sendiri dengernya. hahaha..

Dua Cewek Backpacker Terjatuh Dari Motor Saat Menuju Pantai Atuh, Nusa Penida


-
-

Pernah tidak terbayangkan saat berlibur terkena musibah seperti kecopetan, tabrakan atau terjatuh dari motor? 

Pastinya sama sekali tak terlintas kan pemikiran hal semacam itu. Apalagi semua kejadian yang saya sebutkan adalah hal-hal terburuk saat melakukan perjalanan atau sedang berlibur. 

Berkali-kali saya mengalami perjalanan blusukan ke pelosok. Dari tempat heiittsss sampai ke tempat yang sama sekali belum terjamah oleh wisatawan selalu ada saja pengalaman terburuk yang saya alami. Memang tidak menutup kemungkinan hal yang tidak ada dipikiran kita bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.

Tak pernah terbayangkan kesialan akan menimpa saya karena kalau sampai saya selalu memikirkan sesuatu yang belum pernah terjadi, pastinya tidak akan ada tuh perjalanan nekat yang saya lalui selama ini. Mungkin saya akan menjadi anak rumahan yang takut akan matahari dan takut dengan dunia luar. Beruntungnya saya bukanlah orang yang seperti itu. Saya termasuk orang yang suka berkenalan dengan orang baru, suka mencoba hal baru dan menguji adrenaline.

Berbagai pengalaman akan selalu saya coba selagi saya yakin sama diri saya sendiri. Saya pun termasuk orang yang berani mencoba sesuatu yang belum pernah saya alami. 

Jalan Utama menuju Pantai Atuh, Muluuss

Nusa Penida adalah salah satu tempat wisata yang tak akan saya lupakan. Keinginan terpendam saya bisa terealisasikan disini. Sedari dulu saya ingin sekali backpacker-an dengan menggunakan sepeda motor tapi saya yang bawa motornya dan benar saja, saya bisa mewujudkannya disini. Excited, bahagia dan rasa puas berkecamuk jadi satu. 

Akhirnya apa yang saya impikan terjadi di Pulau cantik nan elok ini. Saya dan Jeje memutuskan untuk keliling Nusa Penida menggunakan motor. Beruntungnya kami dipinjamkan motor oleh pihak penginapan.

Kontur jalan utama menuju Pantai Atuh sangat mulus, sesekali saya harus membunyikan klakson agar kendaraan dari lawan arah tau bahwa ada kendaraan kami didepannya. Kelokan demi kelokan kami lalui secara hati-hati. Jalan lurus yang terus memanjang seakan tidak ada ujungnya memiliki kelokan yang sangat tajam. Mending hanya kelokan saja, lebih ekstrimnya lagi saat kelokan tajam saya harus siapkan kedua tangan saya menahan rem agar posisi motor yang saya bawa tidak melaju kencang saat turunan terjal. Kelokan menurun terjal itu seringkali membuat para pengendara motor terjatuh akibat terpeleset. padahal di jalan utama tersebut sedang tidak berpasir. Mungkin laju motor terlalu kencang sehingga pengendara tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya saat melaju dengan motor yang ia bawa.

Perjalanan masih terasa amat menyenangkan. Kami merasa yakin dengan jalan yang kami lalui tanpa google maps karena memang jalur yang kami lewati hanyalah jalur lurus dengan garis yang tidak terputus itu artinya kami tidak boleh belok sembarangan. Tertawa riang, bercanda, teriak kegirangan karena sepanjang perjalanan yang kami lihat hamparan bukit-bukit hijau dengan garis biru yang terlihat dari kejauhan. 

"Aaaarrrggghhhh Jeeee bentar lagi kayanya sampe nih"
"Iyeesss cucuuurr..liat deh cantik banget yaaaa"

Begitulah kami selalu heboh dimanapun berada. kami berdua memiliki kesamaan yaitu menyukai rintangan dan tantangan yang ada didepan mata. kami tak pernah merisaukan apa yang akan terjadi nanti. Di pikiran kami hanyalah pantai cantik yang harus dikunjungi sembari menikmati angin segar di pesisir pantai.

Sepanjang perjalanan beberapa kali kami menemukan pertigaan namun selalu ada pertunjuk arah yang bertuliskan PANTAI ATUH. Dengan rasa yakin kami lewati jalan sesuai penunjuk arah. Sampai akhirnya kami lupa kalau bensin harus segera diisi karena tersisa satu bar lagi. Saya takut lupa, nanti malah mogok dijalan lagi. Makanya saat kami melihat ada motor yang terparkir dengan pengendara bule. Kami pun berhenti disana untuk mengisi bahan bakar sejenak.

"Ibu isi penuh berapa?"
"20.000 satu botol mba"
"Bisa setengah botol gak ya? karena motor saya masih ada sisa bensin bu. Kayanya kebanyakan deh kalau satu botol"
"Wah gak bisa mba"

Akhirnya saya pun pasrah dengan jawaban ibu penjual bensin. Sambil mengisi bahan bakar saya sudah memperingati bahwa motor yang kami gunakan masih ada bensinnya jadi harus hati-hati takut kepenuhan. 

Saat mengisi bensin, ibu penjual ini mengajak saya ngobrol menanyakan tujuan kami akan kemana. Tidak lama saya menjawab pertanyaan ibu penjual......Byaaaarrrrrrrrrr!!!!

"Arrghhhh Bu lubeeerrrr"
"Ooohhh gak apa-apa kan bisa di elap mba"
"Bukan gitu bu saya takut aja motornya tar kebakar kalau ada yang buang rokok sembarangan. Soalnya satu motor bagian belakang kena bensin semua atau gak siram air aja bu"
"Gak apa-apa ini saya elap motornya"

Ibu penjual bensin dengan santainya terus menggosok motor kami dengan lap basah agar bensin yang sudah luber diarea seluruh belakang tidak terlalu bau bensin. Sebenarnya bukan masalah bau bensinnya tapi saya agak parno aja karena bensin luber membasahi seluruh bagian belakang motor. Saya takut motor terbakar, bukanya apa-apa resikonya bukan motor rusak aja melainkan nyawa kami. Karena saya pernah melihat motor orang terbakar dibagian knalpotnya dan itu benar-benar sampai hangus belakangnya. Saya tidak mau kejadian itu menimpa kami. 

Akhirnya drama per-bensinan kelaarrr sudah. Ibu ini tidak meminta maaf tapi masih saja terus tersenyum dengan kami yang sudah mulai panik. Hahahhaa...Agak sempat bete sih tapi ya ngapain juga bete. tar yang ada liburannya jadi gak asik. Toh ibu penjual bensin sudah berusaha sebaik mungkin kan.

Baru juga lima puluh meter perjalanan kami telah dihadapkan dengan pertigaan. Arah kami belok kiri unuk menuju Pantai Atuh. Kontur jalan masih terbilang lumayan walaupun masih ada beberapa spot jalan yang berlubang besar. Beberapa kali saya harus memainkan gas dan rem agar dapat menyeimbangkan tubuh saya saat berkendara. 

Tak jauh dari jalan itu kami masih dihadapi dengan kontur jalan yang berpasir. Perjalanan kami masih bisa terbilang agak mulus dengan guncangan yang semakin keras karena banyak bebatuan lepas yang bertumpuk diarea jalan.

Kepalan tangan saya semakin kencang memegang stang motor agar tidak terlepas karena guncangan tapi lucunya kami masih bisa tertawa karena menertawakan diri kami sendiri 

"Gini amat ya perjalanan kita je hahaa (ketawa nyesek)"
"Sabar cucuuurr anggap aja kita lagi naik kora-kora hahaa"
"Jeee kok itu bule pada parkir dipingir sawah sih"
"Apa kita parkir disini aja yah"
"GUBRAAAAAKKKKKKK!!!!!"




Belum juga Jeje melanjutkan perkataannya kami berdua terjatuh diturunan terjal yang berpasir dan berbatu. Saya tidak bisa mengendalikan gas yang telah saya rem di bagian depan dan belakang. Motor yang kami gunakan melaju kencang seakan tak terkendali. Ban depan motor kami terperosok digundukan pasir putih yang sangat tebal mengakibatkan ban selip karena licin. 

Bule berbikini yang parkir motor dipinggir sawah berlari menuju arah kami memberikan satu botol air putih agar kami dapat membersihkan luka akibat terjatuh. Kami sempat menanyakan alasan dia mengapa parkir motor disana dipinggir sawah. Ternyata mereka sudah memiliki pemikiran kalau sampai perjalanan dilanjutkan akan sangat berbahaya. Tapi kami sama sekali tidak memikirkan hal itu dan masih saja melanjutkan perjalanan. Maklum logika cewek dan cowok itu berbeda dalam berkendaraan. Cewe lebih memakai perasaan sedangkan cowok lebih memakai logika #ngeles

Yaaahhh sudahlah..Memang musibah datang secara tiba-tiba. Anggap saja ini pun satu pelajaran bagi kami. Jika merasa ragu untuk melanjutkan perjalanan ada baiknya jangan diteruskan karena akan merugikan diri sendiri.

Kaca spion bagian kanan motor hancur lebur bagian kacanya. Anehnya lagi biasanya kalau saya terjatuh dari motor, saya orang yang paling gak kuat mengangkat motor agar bisa berdiri kembali. entah kekuatan dari mana, saya sanggup mengangkat motor dan membelokkan motor dengan sekali gas untuk di parkir dipinggir sawah.
Berpasir dan Licin

Sudah kedua kalinya Jeje terjatuh dari motor dengan saya. Pertama saat perjalanan di Sukabumi, memang tidak luka tapi motor kami hampir masuk jurang dan Kedua di Nusa Penida, kaki kanan kami terluka dan kaca spion hancur dengan kondisi motor lecet dibagian pijakan bawah. Bersyukurnya kami masih bisa berjalan kaki.

Motor sudah terparkir di pinggir sawah. Luka pun juga sudah dibersihkan dengan air. Tapi rasa cenat cenut tak dapat dihilangkan. Kami berjalan kaki untuk mencapai Pantai Atuh sekitar 1 km dengan perjalanan turunan terjal yang berpasir membuat sendal kami terasa licin dan harus berhati-hati saat mengambil pijakkan. Setelah turunan yang terjal akhirya kami menemukan jalan yang landai. Beberapa kali kami berpapasan dengan bule yang juga berjalan kaki. Ternyata mereka juga sama kaya kami, parkir motor dipinggir sawah dan tidak memaksakan untuk motor turun ke parkiran yang berada di tiket masuk.
Jalan setapak yang bisa dilalui pejalan kaki
Pantai Atuh dari ketinggian
Menikmati keindahan Pantai Atuh dari ketinggian
Keindahannya yang begitu mempesona

Saat dijalan landai kami melihat beberapa orang lokal yang berjaga, ternyata penjaga Pantai Atuh dengan biaya retribusi Rp. 5.000/orang. Anak muda yang berjaga sempat menanyakan kondisi kaki kami yang terluka bahkan mereka menawarkan kami untuk ke parkir motor dengan motor mereka tapi kami menolaknya sedari awal karena untuk tanjakan berpasir pun terlihat sangat berbahaya jika boncengan. Makanya kami lebih memilih untuk berjalan kaki saja.

Kami masih melanjutkan perjalanan menuju Pantai Atuh yang ternyata masih lumayan jauh dari penjaga tiket itu. Awal perjalanan kami memang jalan menuju Pantai Atuh sudah bersemen dan rapi namun masih sebagian saja sudah dirapikan. Saat dipertigaan kami harus memilih untuk belok ke kanan dan menanjak atau belok ke kiri dan menurun. Akhirnya kami memilih untuk turun terlebih dahulu karena disana ada warung dan rencana kami akan membeli obat merah disana.

Saat menurun pun keadaan sangat licin karena memang sandal yang digunakan tidak dapat menahan pasir yang sedikit berbatu. Sesampainya di warung yang terdapat 2 hammock. Kami sejenak bersantai disana untuk melihat kondisi pantai atuh dari atas. Ternyata air pantai sangat surut sekali. Kalaupun kami paksakan untuk turun kebawah sepertinya akan sia-sia saja ditambah lagi kondisi luka kami yang membuat perjalanan kami agak kurang bergairah karena menahan cenutan dari luka yang darahnya masih terus mengalir.

"Dek sini lukanya ibu bersihin yah"
"Ibu jual obat merah disini?"
"Iya jual, udah sini pake obat ibu dulu aja"
"Oke bu, pake alkohol dulu apa obat merah dulu"
"Bersihin pake alkohol aja yah, sini ibu siram lukanya"
"Gaaaakkkk!!! Gak mau bu makasih, biar saya obatin sendiri aja"

Ibu warung super tega!! masa luka kami mau disiram pake alkohol. yasalaaammm kebayang gak sih perihnya gimana. Kami pun teriak histeris waktu ibu itu bilang mau siram pake alkohol. Sepertinya ibu warung gregetan melihat luka yang kami sayang-sayang biar gak kena apapun. Hahahaa..

Memang ternyata setiap pengunjung yang tiba di Pantai Atuh selalu ada saja yang abis kecelakaan terjatuh dari motor. Makanya ibu warung ini berjualan alkohol Rp. 19.000, obat merah dan kapas karena saking seringnya pengunjung yang berdatangan terluka saat menuju Pantai Atuh.
Pasir Putih Pantai Atuh

Hammocking

Setelah luka kami telah diobati, kami hanya memandang Pantai Atuh dari ketinggian saja karena memang rencana kami kan mau main air kesana tapi kecewa lihat kondisi pantai yang sangat surut dan tak ada ombak yang berderu dipesisir pantai. kami menikmati sore hari yang berangin kencang dengan ayunan hammock yang terus bergerak kekanan dn kekiri mengikuti arah angin yang terus bersemilir dari satu arah. Tak hanya kami saja yang tidak melanjutkan perjalanan untuk turun kebawah. Wisatawan luar pun yang hendak menuju Pantai Atuh terlihat kecewa juga dan tidak melanjutkan perjalanan untuk turun kebawah. 

Kami berdua pun hanya mengobrol saja dengan ibu warung yang sangat berbaik hati ini. Saking baiknya mau siram luka kami dengan alkohol agar kaki kami tidak bengkak saat malam hari. Karena ibu warung pun juga sering mengalami hal yang sama seperti kami. menurut ibu warung terjatuh dari motor untuk menuju Pantai Atuh adalah hal yang sangat biasa. tapi setelah itu akan terbiasa dengan medan perjalanan yang sangat hancur.


Pemandangan tepat di depan Rumah joglo
Setelah lama beristirahat di depan warung sembari hammock-an. Kami melanjutkan perjalanan untuk menuju Rumah Joglo. Tapi menurut bli yang juga ikut nongkrong bareng kami di warung. Kami harus berkunjung ke Rumah Pohon. Kami pikir Rumah Joglo yang masih searah dengan Pantai atuh itu juga termasuk dari Rumah Pohon. Ternyata pikiran saya salah, bukanlah disana letaknya Rumah Pohon. Kami berdua kebingungan karena memang tidak pernah tau letaknya Rumah Pohon dimana. Pakai Google Maps pun tak guna karena memang tidak ada sinyal untuk menuju Pantai Atuh ini. Kami pun bisa sampai ke Pantai Atuh karena mengikuti penunjuk arah jalan saja. Sepanjang jalan pun kami tidak bertanya dengan penduduk disana. Walaupun saya sempat bingun saat ada pertigaan penunjuk jalan mengarahkan kami ke Pantai Atuh untuk belok kiri dan belok kanan. Entah harus pilih apa, akhirnya kami berdua memilih untuk belok kiri saja agar mencapai Pantai Atuh.
Rumah Joglo dari kejauhan

Akhirnya kami meneruskan perjalanan kami menuju Rumah Joglo yang letaknya lebih tinggi lagi dari warung yang kami kunjungi. Disana ada satu Joglo yang disewakan untuk penginapan. Kebanyakan yang menginap di Rumah Joglo itu wisatawan luar. Karena memang penginapan ini sangat private karena tidak ada penginapan lainnya disana. Sempat kami pun berpikir, Apa gak takut yah diatas tebing sendirian aja tanpa ada pengunjung lainnya. Mungkin bagi mereka yang memang menyukai ketenangan. Rumah Joglo ini lah penginapan yang tepat bagi kalian yang merindukan suasana alam yang begitu tenang, hanya ada suara ombak dan angin saja yang menemani tidur kalian di malam hari. 


Rumah Joglo di Pantai Atuh

Mencapai diketinggian tebing terlihat pesisir pantai berpasir putih. Ada beberapa pesisir pantai yang dapat dilalui oleh pengunjung. Namun ada pula pesisir pantai yang tak dapat dikunjungi oleh pengunjung. Pasir tersebut sangat bersih, Deburan ombak membuat kecantikan Pantai Atuh terlihat begitu sempurna. 

Banyak kenangan yang tertinggal disini. Bukanlah kenangan manis tapi kenangan yang membawa luka. Iya luka tapi bukan luka dihati melainkan luka dilutut. Penuh perjuangan untuk mencapai Pantai Atuh. Banyak rintangan yang harus kami lewati. memang tempat yang indah perlu dilalui dengan segala rintangan. Dari motor kesiram bensin, jalan berbatu dan berpasir menjadi teman kami dan terakhir berjalan kaki sejauh 1 km dengan kondisi kaki yang masih mengeluarkan darah segar karena pertolongan utama kami hanyalah air bersih yang diberikan bule saat diperjalanan. Memang kenangan seperti ini tidak akan mudah terlupakan. Luka yang membawa bekas akan mengembalikan memori yang telah lama hilang. Nusa Penida akan selalu teringat dalam pikiran saya bahwa diperlukan rintangan untuk mencapai suatu keindahan sama halnya seperti perlu pengorbanan bagi orang yang kamu sayangi #aheeeyyy

Sampai jumpa Pantai Atuh, kamu telah mengajarkan kami arti dari keikhlasan dan kesabaran dalam melalui rintangan yang ada di depan mata. Semoga tahun depan saya bisa berjumpa lagi dengan Pantai Atuh



Cheers,

Dian Juarsa
18 Sep 2017