Menu

Laman

  • loading...
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi. Tampilkan semua postingan

Rumah Peninggalan Tahun 1914 di Desa Bumbulan, Pohuwato


-
-

"Rumah Tua"
"Rumah Kosong"
"Rumah Peninggalan Penjajahan"
"Pasti deh rumahnya banyak hantunya" 
Yaaapppp begitulah saya kalau sedang berbicara dengan diri sendiri. Berbagai macam pikiran negatif berkecamuk seakan saya tidak mau memasuki rumah tersebut. Tapi beda halnya dengan rumah tua yang saya kunjungi di Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat.

Baca : Pohuwato | Suasana Tempat Pelelangan Ikan (TPI)  
Rumah tertua tahun 1914

Rumah tertua adat Gorontalo di Desa Bumbulan, Kec Paguat, Kab Pohuwato memang bukanlah tempat destinasi wisata. Saya termasuk orang yang beruntung karena dipersilakan masuk dan mengunjungi rumah tertua ini. Letaknya tidak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan Desa Bumbulan. Sepintas melihat bangunannya masih sangatlah bagus dan kokoh, belum lagi warna catnya yang tidak terlihat lusuh membuat saya semakin penasaran seperti apa rupanya rumah tertua ini. 

Sudah 5 generasi yang menempati rumah tertua adat Gorontalo dari tahun 1914. Rumah tertua adat Gorontalo pun telah berumur 103 tahun masih tetap berdiri kokoh. 

Pemilik rumah ini bernama Fuad Junus Lie yang menganut agama kristen dan masuk agama islam sehingga namanya pun berubah. Fuad Junus lie menikahi salah satu perempuan asal Gorontalo yang akhirnya membuat sebuah rumah yang hingga kini masih ada wujudnya dan sangat terawat.  
Ibu Ori dari generasi kelima

Ibu Ori adalah generasi terakhir yang menempati rumah tertua adat Gorontalo. Beliau begitu ramah menyambut kedatangan kami. Saat kunjungan kami kesana suaminya sedang tertidur pulas diujung pintu dan putrinya sedang santai menonton TV. Ibu Ori terus tersenyum saat kami berinisiatif menanyakan perihal terdahulu tentang rumah tertua ini. Padahal belum lama ini Ibu Ori baru saja berduka karena menantunya meninggal saat hamil tua. 
Pak Abi Daeng Metteru duduk di kursi tertua 1915
Kursi yang di duduki Pak Abi memang dibuat pada tahun 1915. Namun siapa sangka kalau itu adalah kursi satu-satunya yang masih bertahan hingga saat ini. Ibu Ori menjaga semua peninggalan turun temurun, tak ada sedikit pun dari bangunan rumah ini dirombak karena memang Ibu Ori ingin menjaga keasliannya seperti dahulu kala.


Rumah peninggalan penjajahan Belanda ini memiliki 3 buah pintu yang tinggi dibagian depan berbahan dasar kayu. Jendelanya pun tidak berkaca melainkan dari kayu dengan ukuran setengahnya pintu bagian depan. Pintunya pun bertirai hanya dibagian atasnya saja sedangkan jendela tirainya menutupi seluruh bagian. 

Rumah ini terdiri dari 4 kamar yang memanjang kebelakang sehingga seperti adanya lorong kebagian belakang yang berujung dengan ruangan dapur. 



Foto-foto terahulu pun di pajangnya dengan menggunakan pigura agar fotonya tak rusak dan masih awet hingga kini. Konon ada mitos yang sering terdengar perihal keberadaan rumah ini. Jadi dulu itu bagi siapapun yang meninggalkan rumah ini akan mati. Sehingga ada salah seorang perempuan yang berani meninggalkan rumah lalu dibunuh oleh pasukan kerajaan. Sampai akhirnya hingga kini masih bergentayangan arwahnya. Entah cerita ini hanya legenda aja atau memang benar adanya. Tapi itulah yang saya dapatkan dari Ibu ori.


Sebenarnya kami merasakan nyaman saat berisitirahat di rumah Ibu Ori karena angin semilir begitu sejuknya membuat kedua mata saya ingin terpejam sejenak. Sangat nyaman dengan suara pohon yang bergerak akibat angin yang terus menghembus hingga saya pun enggan beranjak dari rumah Ibu Ori. Tapi itu hal yang tidak mungkin karena masih ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi. 

Terima kasih Ibu Ori atas sambutannya yang hangat

***

Setelah berkunjung dari rumah Ibu Ori ada jembatan penghubung dari kayu yang instagrammable banget. Akhirnya kami pun turun sejenak hanya untuk mengambil beberapa foto disini.



Sekian sudah kunjungan kami di Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat. Buat teman semua yang ingin berkunjung ke rumah tertua adat Gorontalo, mohon datang dengan sopan dan ucapkan salam terlebih dahulu. Karena Rumah tertua adat Gorontalo bukanlah tempat wisata.

Cheers,
#pohuwatogoesdigital
Dian Juarsa
5 May 2017

Cara mengolah air nira menjadi gula semut di Desa Soginti


-
-

Selama perjalanan di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo memang mayoritas selalu ke pantai. Tak ada tempat lainnya selain pantai karena memang daya tarik dari Pohuwato yaitu pantainya yang begitu cantik membuat kami tergoda untuk menyambangi bibir pantai berpasir putih. Tapi ternyata Pohuwato tak hanya pantainya saja yang menjadi daya tarik kami, melainkan kami bisa ikut melihat secara langsung proses pembuatan gula semut. Apa itu gula semut? sempat terlintas dipikiran saya dan tak sengaja melontarkan perkataan dengan lantangnya : 

"Appaaaaa? Gulanya terbuat dari semut??"
"Bukan Diaaaannnnnn"

Sontak semua yang mendengar perkataan saya pun tak bisa menahan tawa. Well...Sorry!! Keliatan banget kan onengnya (-___-")

Oke kali ini saya akan menjelaskan proses pembuatan gula semut yang didampingi oleh Pak Idrus Kone selaku Petani Kelapa yang mengolah air nira yang berasal dari Pohon Aren menjadi gula semut yang brtempatkan di Desa Soginti, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara. 

  • Pak Idrus mengajak kami semua ke dalam hutan yang disana banyak ditumbuhi Pohon Aren yang menghasilkan air nira. Ketinggian Pohon Aren mencapai 6 meter, Pak Idrus harus memanjat Pohon Aren untuk mendapatkan air nira. 

Pak Idrus memanjat Pohon Aren untuk diambil air nira

  • Setelah mendapatkan air nira, Pak Idrus harus menyimpan air tersebut kedalam tabung bambu yang telah disediakan Pak Idrus. Dalam sehari Pak Idrus dapat mengumpulkan air nira hingga 5 - 7 tabung bambu. Kapasitas tabung untuk air nira masing-masing adalah 5 liter tiap tabungnya.
Tabung bambu yang digunakan untuk menampung air nira

  • Setelah air nira sudah terkumpul, Pak Idrus harus menggeprek kayu Boyuhu untuk pewarna alami gula semut. Kayu boyuhu yang telah di geprek dengan palu akan dikumpulkan menjadi satu lalu diikat secara bersamaan.
Kayu boyuhu yang telah digeprek

  • Warna yang dihasilkan oleh kayu boyuhu berwarna agak kemerahan. Sehingga air nira yang bercampur dengan kayu boyuhu menjadi perpaduan warna yang tidak terlalu gelap untuk dijadikan gula semut.

Warna kemerahan yang berasal dari kayu boyuhu
  • Kayu boyuhu yang telah digeprek akan dicampur dengan air nira untuk dimasak dengan kayu bakar. Aduk terus hingga mendidih, Saat air nira mendidih sebenarnya air nira ini bisa dijadikan untuk minuman segar yang sangat manis, dinamakan soba. Kalau soba ini difermentasikan bisa menjadi tuak.
Tempat memasak air nira agar menjadi gula semut dan gula aren
  • Proses mengaduk air nira yang sudah didalam wajan masih terus dilakukan walaupun sudah mendidih karena memang harus diaduk hingga mengental. Setelah air nira mengental, masukkan kedalam cetakan dari kayu yang sudah dibersihkan dengan air kapur agar memudahkan proses pelepasan gula.
Gula aren dan gula semut didalam cetakan
  • Proses pembuatan gula semut lebih lama dari pembuatan gula aren. Setelah nira aren yang dimasak berubah menjadi lebih pekat. Angkat wajan dan aduk secara perlahan sampai terjadi pengkristalan. Setelah itu, pengadukan dipercepat hingga menjadi serbuk yang kasar. Serbuk yang kasar inilah yang disebut gula semut.
Selesai sudah pembuatan Gula Aren dan Gula Semut. Semoga bemanfaat buat kita semua. 



Tak heran cetakan gula aren atau wajan air nira selalu di gandrungi lebah karena manisnya gula yang membuat lebah tak pernah jauh dari gula-gula tersebut. Jadi sudah pemandangan yang biasa kalau ada lebah yang mati karena mungkin mereka terlena dengan manisnya gula.

Harga gula aren dan gula semut memiliki harga yang sangat jauh sekali. Gula Aren perkilonya Rp. 10.000 sedangkan gula semut perkilonya Rp. 100.000. Harga yang sangat berbeda jauh karena memang gula semut sering ditemui di hotel atau coffee shop sedangkan gula aren seringkali ditemui oleh pedagang rujak. yakaaannnn? benerkaaannnn? hehhehee...

Pak idrus menjual hasil olahan air nira kepada pengepul langganannya. Dalam sehari Pak idrus dapat menghasilkan 30kg gula aren dan gula semut. 

Bagaimana? Kalian tertarik doonggg melihat secara langsung pembuatan gula aren dan gula semut. yuuukkk kunjungi Pelatihan kelompok gula semut Desa Soginti, Kecamatan Paguat. Dijamin akan menambah wawasan kalian.

Cheers,
#pohuwatogoesdigital
3 July 2017
Dian Juarsa

Pohuwato | Suasana Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Bumbulan, Kec Paguat


-
-

"Mau kemana kita hari ini?"
"Tempat Pelelangan ikan"
"Hah..Tempat Pelelangan ikan? Serius?"
"Iyaaa di Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat"

Pengalaman pertama yang tak seperti biasanya harus ke pelelangan ikan. Entah mau ngapain kesana tapi pastinya sesekali berkunjung ke tempat yang berbeda dari biasanya. Sempat dalam hati berkata "emang ada pemandangan yang kece yah disana? apa ada yang mau beli ikan kali ya? hmmmm...entahlah kita lihat saja nanti"

Sempat bingung apa sih istimewanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Desa Bumbulan Kecamatan Paguat, Sampai kami harus berkunjung kesana. oke kali ini saya akan membahas kebingungan saya yang terus bertanya-tanya dalam hati apakah tempat tersebut dapat memberikan kesan yang begitu mendalam dan berarti buat saya?


***

Sesampainya di desa Bumbulan cuaca sangat terik sekali, banyak bapak-bapak yang berkerumun mengelilingi ikan hasil tangkapan nelayan. Suara bapak yang begitu cepat menyuarakan angka demi angka yang saya pun tak mengerti apa yang dikatakannya. Satu persatu bapak-bapak yang berkerumunan itu pun saling bersahutan menyebutkan angka yang diinginkan. Saya pun semakin tak mengerti dengan ucapan mereka yang begitu cepat dan saling bersahutan. Ternyata mereka yang berkerumun itu adalah pedagang ikan.
Tempat Pelelangan Ikan Desa Bumbulan

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat berdiri sejak tahun 2003 bertepatan berdirinya Kabupaten Pohuwato. Awalnya Tempat Pelelangan Ikan ini dibuka dari pukul 06.00AM - 19.00PM namun seiringnya banyak warga yang tertarik untuk hadir di pelelangan ikan ini maka Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Bumbulan, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato buka 24 jam. Wooww!!! memang luar biasa tempat ini tidak ada jam istirahatnya. Nelayan terus bergulir membawakan hasil tangkapannya yang akan diburu oleh para pedagang ikan setempat. Good job!!

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Bumbulan, Kec Paguat, Kab Pohuwato memiliki Juru Lelang terbaik yang bernama Tunce Polumulo yang sudah menggeluti profesinya sebagai Juru Lelang selama 10 tahun. Pak Tunce ini juru lelang yang pernah mendapatkan penghargaan loh. Pak Tunce memiliki keunikan yang sangat khas saat menyebutkan angka-angka dalam proses lelang berjalan.
Juru Lelang
Proses berlangsungnya Lelang Ikan yaitu saat nelayan membawa hasil tangkapan ikan ke petugas agar semua ikan yang didapatkannya harus ditimbang terlebih dahulu lalu dicatat oleh petugas. Setelah semua ikan hasil tangkapan nelayan sudah dicatat maka petugas akan memberikan catatannya ke Pak Tunce selaku Juru Lelang. Nah nantinya Pak Tunce akan menyebutkan nominal angka berat ikan yang telah ditimbang oleh petugas. Disitulah terjadinya pelelangan ikan sehingga para pedagang ikan yang berkerumun tadi saling bersahutan angka agar mendapatkan harga yang terbaik. Menarik bukan?
Nelayan yang membawa hasil tangkapan ikan

Para nelayan hilir berganti datang membawa ikan hasil tangkapan, Saya sempat heran ada anak kecil yang juga membawa begitu banyak bawaan ikan hasil tangkapan dipanggulnya. Anak sekecil itu sangat kuat sekali membawa ikan hasil tangkapan yang kemungkinan ikan tersebut sekitar 3 kilo. Usut punya usut ternyata ikan yang didapatkan oleh anak kecil itu adalah ikan hasil boleh memungut dari nelayan yang ikannya berjatuhan saat akan dibawa ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). 

Baru saja mau simpan ikan itu kedalam bak yang telah disediakan, Ada seorang ibu pedagang ikan yang membayar dengan harga Rp. 10.000 saja. Menurut saya harganya tak sebanding dengan apa yang sudah dihasilkan anak itu. Tapi memang begitulah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Desa Bumbulan. Ikan yang dijajakan akan dilelang dengan harga sesuai tawaran dari para pedagang ikan.
Hasil dari ikan yang tercecer

Harga yang ada di tempat lelang ikan ini memang terbilang murah tapi semua tergantung dari hasil tangkapan nelayan. Pada musim angin atau musim hujan, hasil tangkapan nelayan akan sangat sedikit sehingga harga yang ditawarkan pun lebih tinggi. Seperti Ikan Kerapu bisa mencapai harga Rp. 60.000/kilo. Ikan Cakalang, Ikan Dehu, Ikan Lajang dan Ikan Kodi bisa mencapai Rp. 30.000/kilo. Beda halnya jika saat musimnya sedang bagus, harga ikan pun akan jauh lebih murah menjadi Rp. 20.000/kilo untuk Ikan Kerapu dan Rp. 10.000/kilo untuk Ikan Cakalang, Ikan Dehu, Ikan Lajang dan Ikan Kodi. Perbandingan harga yang sangat jauh sekali. Memang musim menentukan segalanya bagi pendapatan tiap nelayan.  
Beragam species ikan ada disini
Hasil tangkapan nelayan yang sudah ditimbang
Semua ikan segar yang ada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) memang selalu menjadi incaran para pedagang ikan. Dengan harga yang didapatkan lebih murah, sehingga mereka dapat menjual dengan harga yang lebih tinggi. 

Tempat Pelelangan Ikan di desa bumbulan ada peraturan yang harus diikuti yaitu hanya para pedagang ikan saja yang dapat menawar harga tiap ikan yang dijajakan disini. 

Tumpukan ikan yang dilelang
Ikan Cakalang
Ikan Cakalang pemberian Pak Oyan

Saat saya sedang mengobrol sama salah satu nelayan yang ada disana. Ternyata ada salah satu bapak nelayan yang bernama Pak Oyan memberikan saya 2 ikan cakalang untuk dibawa pulang. Wuuuaahhh baik sekali Pak oyan, Saya gak menyangka ikan yang saya pegang untuk bertanya ikan jenis apa malah jadi hak milik saya. Alhamdulillah...Tempat Pelelangan Ikan ini banyak memberikan informasi yang sangat bermanfaat buat saya dan juga keramahan penduduk disini membuat saya betah berlama-lama sembari bercanda dengan pak nelayan disana. 



Terima Kasih atas kebaikan dan keramahan Pak Nelayan dan Pak Pedagang Ikan yang hampir semuanya berebutan minta difotoin. Karena mereka mengira saya wartawan tapi setelah saya memberitahu bahwa saya bukan wartawan malah tetep aja minta difotoin. Hahahaha emang dasarnya banyak yang narsis kali ya. hihihiii...

Seperti foto diatas, Saya dapat buah tangan 2 ikan cakalang dan Pak abi mendapatkan burung dari salah satu warga disana. Kedatangan saya ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Bumbulan sangat berkesan sekali karena keramahan dan kebaikan mereka dalam menyambut kami dengan baik selama melihat proses pelelangan berlangsung.


#pohuwatogoesdigital

Dian Juarsa
5 Juni 2017

Pulau Lahe | Pulaunya asik buat leha-leha


-
-

Siang terasa seperti sore, langit terlihat mendung dengan awan yang menggumpal semakin gelap. Sepertinya akan turun hujan karena angin pun terasa begitu kencang. Senja pun sudah pasti tidak akan muncul karena keadaan langit yang sudah tidak bersahabat. Yap begitulah yang namanya perjalanan, selalu ada hal yang tak terduga didalamnya. Tapi itulah bumbu tiap perjalanan agar tidak monoton sehingga membuat para pejalan semakin ketagihan tiap datang ke destinasi baru.

Baca : Sengkang si manusia laut yang hidup di Torosiaje, Kampung Suku Bajo

Speedboat sudah siap di bibir pantai untuk membawa kami rombongan kamadig mengunjungi sebuah pulau yang masih belum terjamah. Bahkan pengunjung yang datang pun hanya penduduk sekitar saja yang mendatangi pulau dengan menggunakan perahu pribadi. Untuk biaya speedboat pulang pergi Rp.500.000 bisa muat sekitar 15 orang dengan satu mesin.

Pulau yang tak begitu luas dengan jarak dari Pantai Pohon Cinta sekitar 3.6 kilometer, waktu tempuh sekitar 25 menit dengan keadaan ombak yang juga tidak bersahabat karena kencangnya angin sehingga untuk menuju pulau terasa lebih lama dari biasanya, mau tau pulau apa? ini diaaaaa PULAU LAHE. Pulau nan cantik mempesona berpasir putih yang begitu lembut.
Pasir putih Pulau Lahe

Pulau Lahe ini memiliki keunikan tersendiri, selain pasirnya yang putih dan lembut akan tetapi bagian tengah pulaunya terdapat pohon cemara. Memang pulau ini paling asik buat leha-leha sejenak sembari pasang tenda di Pulau Lahe. Tapi apa daya, kedatangan kami kemari tidak untuk kemping di pinggir pantai melainkan menunggu senja yang kemugkinannya sangat tipis akan muncul sore itu.



Akhirnya dari pada berharap kedatangan senja lebih baik bermain di bibir pantai. Pulau Lahe ini memang agak sedikit kotor karena banyak ranting pohon yang berserakan karena terbawa ombak dari laut, Sampah pun sedikitnya terlihat menghiasi Pulau Lahe yang begitu indah. Sangat disayangkan sekali dengan kondisi yang agak kurang terawat, Pulau Lahe jadi tidak maksimal loh cantiknya ;)



Kami asik bermain di pantai, ada yang bermain air di bibir pantai, ada yang sedang berlari-lari hanya karena tidak mau tertinggal foto bersama, ada juga yang mencari ikan dan terakhir pastinya berfoto ria. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan selama di pantai. Untuk kalian pun yang mau cari spot kece untuk foto di instagram, Pulau lahe adalah pilihan tepat untuk kalian yang suka hunting foto. karena tak hanya bagian pinggir pantainya saja yang indah melainkan bagian tengah Pulau Lahe pun tak kalah indahnya dengan berjajarnya pohon cemara disertai ranting coklat yang berguguran dibawah pohon cemara yang akan memberikan kesan dramatis dari tiap angle yang kalian dapatkan disana.



Memang pulau ini sangat disarankan bagi yang ingin menghilangkan kepenatan sejenak karena tenangnya air laut dengan semilir angin yang terasa begitu segar dengan pemandangan sekeliling yang semakin gelap. Walaupun begitu kami tetap melanjutkan aktivitas seperti biasanya, kami tak mengeluhkan langit yang semakin gelap. Tapi agak sedih dikit sih karena senja tak kunjung tiba. Walhasil cari bintang laut aja selama di Pulau Lahe. 
Pencari bintang laut, Jepret!! Pic by Ariefpokto

Di pulau ini memang asik buat bersantai atau sekedar menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga. Pulau Lahe banyak sekali beragam bintang laut. Saya dan Kak Tracy sibuk mencari bintang laut untuk di foto. Saking banyaknya bintang laut bertebaran dimana-mana, jadi saya semakin takut untuk berjalan di bibir pantai karena takut tidak sengaja terinjak. 

Bermain dengan bintang laut ini sangat mengasyikkan karena kondisi bintang laut yang masih didalam air saya simpan di sela jari lalu bintang laut pun berubah posisi dengan mengikuti lingkaran dari tiap sela jari saya. Menggemaaaassskaaannnn!!!!


Saat sedang asik bermain di bibir pantai, salah satu teman kami ada yang terkena bulu babi. Ternyata proses melumpuhkan bulu babi yang sudah masuk kedalam tubuh itu gampang-gampang susah yah. 

Caranya dengan menyiramkan air seni kebagian yang terkena bulu babi lalu di asapi dengan batok kelapa sembari di pukul-pukul pakai batu atau kayu pada sisi bagian yang terkena bulu babi. Memang bulu babi ini harus dengan cepat dilumpuhkan karena akan sangat berbahaya jika racunnya sudah menjalar kedalam tubuh. Padahal yah bentukan bulu babi itu menggemaskan loh. Kelihatannya seperti bola yang ada duri panjangnya. 

Buat teman-teman yang mengalami terkena bulu babi jangan dulu panik yah karena cara tradisional yang saya jabarkan sebelumnya lebih ampuh. Ingat disiram air seni terlebih dahulu baru dipukul-pukul tapi pukulnya pakai perasaan jangan pake cinta #aheeyyy
Kang Aip lagi nahan sakit 
Disamping teman yang sedang melakukan cara tradisional melumpuhkan duri bulu babi, Bena malah asik bakar ikan segar hasil tangkapan om abi. Entah nama ikannya apa tapi yang pasti dagingnya itu enak bangeeeetttt. Saya makan ikan itu pun dipaksa Bena untuk mencicipi daging ikan yang begitu segar. Awalnya saya menolak karena ikan tersebut tidak ada bumbunya, pasti rasanya hambar. Ternyata saya salah sodara-sodaraaa...Ikannya enak bangeeetttttt. Asli bikin ketagihan makan tuh ikan. Rasanya pengen nyari ikan pake tombak terus bakar ikan lagi. Tapi sayang, saya juga sadar diri sih. Mana bisa sih cari ikan dengan pakai tombak kalau tidak berpengalaman #sigh 
Bakar ikan samping kaki -__-"

Mohon abaikan kaki yang ada didekat ikan, itu semua hanya rekayasa belaka. Karena setelah bena datang langsung ambil alih ikan tersebut untuk dibakar di tempat yang berbeda dari teman saya kang aip yang sedang menahan sakit akibat bulu babi. 

Ikan yang dibakar tanpa sentuhan bumbu sedikitpun terasa begitu lezat, Saya tak menyangka kalau ikan tanpa bumbu pun bisa selezat ini. 
Duduk jongkok #jaganditiru
Cuma kita bertiga yang makan ikan

Sehabis mencicipi ikan lezat kami masih tetap menunggu kedatangan senja yang juga belum terlihat. Sampai ada beberapa teman kami yang mengeliling Pulau Lahe. Memang Pulau Lahe ini tidak terlalu besar dan masih bisa dikelilingi oleh siapapun yang berkunjung. Sebenarnya banyak spot yang dapat diperoleh kalau tidak malas berjalan kaki dan ternyata benar saja, Senja pun telah terlihat meskipun hanya biasan orange saja yang terlihat.

Pic by Bang Surya

Walaupun saya tidak melihat langsung biasan senja tapi setidaknya saya bisa melihat hasil jepretan bang surya yang telah mengeliling Pulau Lahe untuk mendapatkan spot foto yang kece. Aaahhh tau gitu saya ikut keliling juga sama Bang Surya.

Selama perjalanan saya di Kabupaten Pohuwato dibuat kesal karena melihat mayoritas penduduk sana memiliki mata bulat besar, berbulu mata lentik dan alis matanya pun tebal sehingga tak perlu lagi diwarnai dengan pensil alis. Pria ataupun wanita mayoritas memiliki mata yang begitu indah. Tapi tak apalah, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi gak boleh iri sama kelebihan orang lain ( -___-")



Hari sudah gelap saatnya kami pulang dengan menggunakan speedboat karena akan sangat berbahaya jika terlalu malam pulangnya. Pemandangan saya saat akan menaiki speedboat yaitu ada yang membakar ranting pohon di pesisir pantai. Mungkin untuk membersihkan Pulau lahe agar ranting pohon tak berserakan di pesisir pantai. Buat kalian yang ingin melepas penat sejenak, Pulau Lahe adalah pilihanmu yang paling tepat!!!




#pohuwatogoesdigital
Dian Juarsa
31 May 2017

Kecantikan Pulau Torosiaje Kecil yang wajib kamu kunjungi


-
-

Pulau Torosiaje Kecil terletak tidak jauh dari pemukiman Suku Bajo, Teluk Tomini, Desa Torosiaje. Kami menggunakan perahu soppe menuju Pulau Torosiaje Kecil selama kurang lebih 18 menit. Satu perahu soppe bisa muat sampai 10 orang dengan menggunakan satu mesin. Perjalanan kami di pagi hari tak serta merta ditemani ombak yang masih bersahabat sehingga masih terbilang aman untuk dilintasi.

Teriknya matahari pagi membuat kulit terasa seperti terbakar tapi gak masalaaahhh karena matahari pagi itu memang bagus untuk kesehatan tubuh. Jadi anggap ajalaaaaah kami sedang sunbathing selama di atas perahu. Ya gaaakkk????

Baca : Sengkang si manusia laut yang hidup di Torosiaje, kampung suku bajo
Melintasi lautan dengan menggunakan  Perahu Soppe

Baca juga : Sengkang si manusia laut yang hidup di Torosiaje, Kampung Suku Bajo

Air laut begitu bening sehingga coral bisa langsung terlihat dari atas perahu. Namun kami semua tidak ada yang berani langsung menceburkan diri ditempat itu karena perahu yang kami naiki tidak bisa berlabuh disana melainkan kami harus berlabuh ke daratan. Walhasil kami pun lebih memilih untuk ikut turun di daratan Pulau Torosiaje Kecil.

Perahu saja terlihat seperti melayang karena saking jernihnya air laut di Pulau Torosiaje Kecil. Memang pulau ini memiliki pesona yang begitu memikat siapa pun yang datang kemari. Bagaimana tidak, air laut yang begitu tenang, jernih dan tak terlalu dalam membuat pengunjung pun merasakan kenyamanan di pulau ini. Memang pulau ini sangat cocok bagi kalian yang hanya ingin berleha-leha sembari menyaksikan alam yang begitu cantik didepan mata.


Beningnya air laut Pulau Torosiaje Kecil

Tak perlu bersusah payah untuk dapat melihat kedalam air karena saking jernihnya air laut, kami bisa melihatnya dari atas perahu. Rasanya ingin cepat-cepat menceburkan diri kedalam laut tapi sayang kami harus ikut ke daratan terlebih dahulu. 

Pulau ini memang tak terlihat adanya bulu babi tapi tetap waspada karena disana bulu babi tak hanya berwarna hitam saja melainkan ada juga bulu babi yang berwarna abu-abu muda. oiyaaahhh satu hal lagi, kalau saat kalian bermain air kulit terasa seperti disengat dan gatal. Itu tandanya ada ikan kecil yang sedang asik bermain disana. Tapi sayang penduduk suku Bajo pun tak tahu nama hewan itu apa karena memang tak terlihat kasat mata. Rasanya sama seperti disengat ubur-ubur, Bekasnya pun juga sama seperti disengat ubur-ubur. Tapi tak masalah, kami tetap melanjutkan bermain air disana. 
Ada beberapa batu coral didalamnya
Pulau Torosiaje Kecil dari kejauhan

Pasir putih yang lembut disertai beberapa kayu dan dahan yang berserakan di pesisir pantai memang menandakan bahwa pulau ini tak berpenghuni dan juga belum ada yang mengelola Pulau Torosiaje Kecil. Padahal Pulau ini sangat indah namun sayang tidak ada yang membersihkan Pulau Torosiaje Kecil sehingga tiap tamu yang berkunjung kemari harus melihat pemandangan beberapa ranting pohon yang berserakan dan juga ada sampah yang berserakan. Semoga saja Pulau Torosiaje Kecil ada yang merawat sehingga kebersihannya tetap terjaga. 

Andai kata suku Bajo merawat laut dengan baik, tentunya dapat menjadi suguhan wisata yang menarik bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. karena Pulau Torosiaje Kecil ini memiliki keindahan yang membuat saya berdecak kagum akan kenyamanan yang diberikan saat kami mengunjungi Pulau Torosiaje kecil.

Banyak ranting pohon yang mengganggu

Ranting pohon ini agak sangat mengganggu kalau kalian sedang asyik berfoto ria selama di Pulau. Memang banyak sekali bekas ranting pohon yang mungkin terbawa ke Pulau ini. Ada baiknya saat bermain di Pulau menggunakan alas kaki karena ada beberapa spot ditemukan pecahan botol yang berada di pesisir pantai. 

Pasir putih yang begitu lembut

Bermain di Pulau Torosiaje Kecil memang sangat aman karena tidak ada ombak yang datang, air lautnya begitu tenang sehingga bagi pengunjung yang tidak bisa renang pun aman untuk bermain di pulau Torosiaje Kecil. Pasir putih didalam laut pun terasa sangat lembut saat dipijak. Gradasi warna air lautnya terlihat begitu jelas, ada biru, biru muda dan turqoise. 

Pemandangan sekeliling yang terlihat dari kejauhan yaitu pegunungan yang berjajar begitu indahnya dengan warna biru disertai langit pun berwarna biru. Saya merasa beruntung sekali bisa memijakkan kaki di Pulau Torosiaje Kecil.


Sepanjang mata memandang hanya ada pegunungan
Nasi goreng + Telor dadar & Mentimun 

Sarapan pagi kami dengan telur dadar dan mentimun. Memang sangat spesial, bukan karena menu makanannya akan tetapi pemandangan yang bisa kami lihat selama sarapan pagi di Pulau Torosiaje Kecil. Menurut saya makan ditempat yang indah adalah tempat makan yang sangat mewah, bukan di restaurant mahal melainkan di pulau terpencil yang jauh akan keramaian dengan mendengar suara kicauan burung. Tempat seperti inilah yang sangat saya kagumi setiap saat. Andai saja pekarangan rumah saya bisa seindah ini. hihihiii..

Baca : Rumah Peninggalan tahun 1914 di Desa Bumbulan, Pohuwato

Perahu Soppe dengan satu mesin

Beginilah penampakan perahu yang kami tumpangi selama perjalanan dari Kampung Suku Bajo menuju Pulau Torosiaje Kecil. Walaupun kelihatannya kecil tapi bisa muat banyak orang. Tak perlu khawatir perahu akan bergoyang karena masih ada satu mesin dibelakangnya sehingga kecepatan perahu bisa lebih seimbang dari pergerakan kami yang berada di atas perahu. 

Pulau Torosiaje Kecil sangat instagramble banget. Tiap sudutnya memiliki pesonanya sendiri, ingin rasanya berkeliling pulau tapi air laut yang begitu tenang lebih menggoda saya untuk bermain air. Walaupun kami tidak ber-snorkeling disana karena memang tidak ada ikan cantik disekitarnya tapi sangat puas bisa bermain air ataupun hanya berendam saja. 

Baca : Suasana Tempat Pelelangan Ikan di Desa Bumbulan, Kec Paguat
Gradasi air laut yang terlihat begitu jelas


Kamu tau gak sih, Perahu Soppe ini bisa dijadikan tempat tinggalnya Suku Bajo loh. Tapi bedanya dengan perahu soppe yang saya gunakan pagi hari adalah mesinnya. Kalau Perahu Soppe Suku bajo yang nomaden tidak menggunakan mesin melainkan harus didayung. Jadi selama ini mereka hidup kesehariannya di atas perahu bersama dengan istri dan juga anak-anaknya. Mereka melanglang buana di tengah lautan lepas hanya dengan menggunakan perahu soppe. Makan sehari-hari yah dari hasil tangkapan ikan yang mereka dapat selama dilautan. Masih gak percaya? Coba tengok foto dibawah ini :
(Sumber : Kompasiana)

Nah buat kalian yang ingin berkunjung ke Pulau Torosiaje Kecil ada beberapa info dan cara yang harus dilakukan :
  1. Kalau kalian dari Jakarta, pilih flight menuju Bandara Djalaludin Gorontalo. Ada baiknya ambil flight pukul 02.00 AM agar sesampainya di Gorontalo pukul 07.00 AM. Karena perjalanan menuju Desa Torosiaje dari Bandara Djalaludin Gorontalo selama 5 jam perjalanan darat. 
  2. Untuk mempermudah perjalanan menuju Desa Torosiaje ada baiknya rental mobil dari bandara. Harga kisaran rental mobil perharinya Rp. 350.000-500.000,- harus pinter nawar kalau mau dapat harga miring. 
  3. Bagi kalian yang enggan rental mobil bisa dengan cara naik bentor untuk keluar dari bandara menuju Jalan Trans Sulawesi, perkiraan dari bandara sekitar 2 km. Setelah itu kalian bisa tunggu mikrolet kearah Popayato atau Marisa, bilang saja mau ke Desa Torosiaje. Untuk biaya nya dikenakan Rp. 80.000/orang. 
  4. Saat sampai di Gapura Torosiaje kalian akan menyebrangi hutan mangrove menuju Desa Torosiaje. Nah biaya pulang pergi Rp. 5.000 *Harga dapat berubah sewaktu-waktu*  
  5. Ada baiknya menginap semalam di Desa Torosiaje, Kampung Suku Bajo. Biaya penginapan semalam Rp. 100.000. Kamarnya cukup luas untuk 2 orang, akan tetapi toilet diluar dan tidak ber-AC yah. Hanya disediakan jemuran saja ditiap kamarnya. Kapasitas kamar ada 5 kamar. Kalau tidak cukup bisa menginap di rumah warga dengan harga yang tak menentu, tergantung dari nego kalian. 
  6. Barulah pagi hari bisa berkunjung mengelilingi pulau terdekat yang ada di Teluk Tomini. Untuk sewa perahu soppe cukup merogoh kocek Rp. 200.000/perahu
  7. Kalau kalian lupa membawa perlengkapan mandi, sendal jepit atau bahkan cemilan dan minuman. Tak perlu khawatir karena di Desa Torosiaje, Kampung Suku Bajo banyak warung yang menjajakan aneka jualan.

Tunggu apalagi...Yuk maen ke Desa Torosiaje


#pohuwatogoesdigital

Cheers,
Dian Juarsa
23 May 2017


Terima kasih buat Mas Irfan Mahmud yang sudah memberikan informasi lengkap perihal Torosiaje