Menu

Laman

  • loading...
Tampilkan postingan dengan label Ternate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ternate. Tampilkan semua postingan

Batu Angus akibat aliran lahar bekas letusan Gunung Gamalama, Ternate


-
-

"Apa kisah dibalik Batu Angus?" 
"Mengapa dinamakan Batu Angus?" 
"Apa daya tarik dari Batu Angus?"


***

Batu Angus memiliki nama yang sangat unik. Pelataran depan Batu Angus banyak ditumbuhi tanaman liar yang menghijau. Saya pikir hanya berupa hutan buatan, Namun saat saya memasuki kawasan Batu Angus, Ternyata banyak sekali bebatuan yang berwarna hitam di pelataran Batu Angus.





Batu Angus adalah batu dari hasil aliran lahar bekas letusan Gunung Gamalama pada tahun 1673, dimana bebatuan dari lahar tersebut mengeras dan mengering menjadi berwarna hitam kelam. Akan tetapi, meletusnya Gunung Gamalama tidak selamanya menyisakan kerusakan saja melainkan adanya hamparan luas Batu Angus yang kini menjadi Destinasi Wisata yang diminati pengunjung.



Letak Batu Angus yang tak jauh dari Kota Ternate sekitar 10km bisa dilalui oleh kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Jadi bagi para pengunjung tidaklah sulit untuk menemukan Batu Angus. Selain itu, jika kalian ingin berfoto diantara bebatuan yang angus ini juga bisa kalian dapatkan dipinggir jalan. Karena selama perjalanan menuju Destinasi Wisata memang dikeliling Batu Angus.




Cuaca yang tak menentu membuat pemandangan saya yang awalnya gelap karena warna awan yang berubah menjadi keabuan tak lama kemudian matahari muncul dan menyinari tempat dimana saya berpijak. Yaapppp luar biasa pemandangan di Batu Angus. Jalan terbentang dengan beberapa kelokan disertai pemandangan tanaman hijau yang mengelilingi area Batu Angus menuju arah lautan lepas. Saat berjalan lurus mengikuti arah jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan pribadi seperti mobil atau motor, Kami disuguhkan lautan luas terbentang dengan pegunungan yang terlihat mengecil karena dari kejauhan. Sedangkan saat saya menoleh ke arah belakang, Gunung Gamalama yang tertutup kabut pun menjadi pemandangan yang tak kalah cantiknya dari lautan yang begitu biru. Gunung Gamalama terlihat sangat besar sekali, seakan saya sudah mecapai setengahnya dari Gunung Gamalama. Padahal saya masih dibawah kaki Gunung Gamalama. Hehee..





Gunung Gamalama memang tak pernah pelit akan keindahannya. Pemandangan cantik ini bisa kalian saksikan secara dekat di Batu Angus. Gunung Gamalama adalah sebuah gunung stratovolcano yang berbentuk kerucut terdapat di keleuruhan Pulau Ternate, Maluku Utara dengan ketinggian 1715 MDPL. 

Kawasan Batu Angus memiliki luas hampir 10 hektare dibagian ujung Kota ternate. Memang di kawasan ini jarang sekali ditemukan warung jajanan karena memang tempat ini seringkali dijadikan persinggahan sementara oleh para pengunjung. Banyak sekali diantaranya membawa bekal sendiri sembari menikmati panorama indahnya Batu Angus dengan bagian sisi barat Gunung Gamalama, sisi timur hamparan lautan luas.


 
Memang tak selamanya bencana alam akan terus membawa nestapa dan penderitaan. Namun juga keindahan yang tidak dimiliki tempat lainnya dengan tanah yang sangat subur sehingga masyarakat Ternate mendapatkan banyak keuntungan akibat gunung meletus. 

Biarkan Batu Angus ini menjadi saksi bisu dari apa yang terjadi pada abad ke 17 yang menewaskan banyak warga setempat dengan aliran lahar yang begitu panas mengaliri setiap celah dari atas Gunung Gamalama hingga pesisir pantai. Kini, Batu Angus menjadi ikonnya Ternate bahwa setiap pengunjung akan dikatakan belum pernah ke Ternate jika belum berkunjung ke Batu Angus. So you guys...Kalau ke Ternate jangan pernah lewatkan Batu Angus yah.  

Benteng Tolukko peninggalan Portugis, Ternate


-
-

Ternate memiliki banyak benteng yang bersejarah. Umurnya pun sudah ratusan tahun lamanya. Benteng di Ternate juga beragam kisah sejarahnya. Ada peninggalan dari Portugis hingga dari Belanda. Dari kejauhan sudah terlihat benteng yang megah karena memang benteng ini berada di dataran tinggi. Benteng Tolukko terletak di kelurahan Sangadji, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara. Benteng ini peninggalan dari Portugis yang pernah berkuasa pada abad ke 15.

Begitu memasuki Benteng, suasananya terawat dan juga asri dengan tanaman hijau dibagian pinggir benteng. Untuk masuk kebagian dalamnya benteng, kalian harus memasuki sebuah lorong yang berjarak hanya sekitar 3 meter. 
Taman Asri di pelataran Benteng Tolukko
Lorong menuju dalam Benteng Tolukko
Setelah itu kalian akan keluar dari lorong dengan posisi sebelah kanan akan ada sebuah lubang yang berbentuk persegi panjang dilengkapi dengan tangga untuk dapat menuju bawah dan di bagian sudutnya pun terdapat ruang bawah tanah yang dulunya difungsikan sebagai tempat penyimpanan amunisi perang. Ruang bawah tanah ini cukup berbahaya jika kalian masuk kedalamnya karena memang tidak ada penerangan dan juga tidak ada tanda jalan.
Ruang Bawah Tanah
Berkeliling Benteng Tolukko terdapat sebuah lorong lagi yang sangat sempit, disana kita bisa melihat indahnya pegunungan Gamalama yang tertutup awan sehingga yang terlihat hanyalah bawah kaki Gunung Gamalama. Genteng-genteng yang berwarna merah bata pun tak terlalu banyak yang terlihat, memang masih didominasi dengan pemandangan pepohonan hijau yang begitu nikmat dipandang. 
Bagian bawah terdapat lorong kecil untuk berjalan



Benteng Tolukko ini seperti dikelilingi lukisan nyata yang alami dari puncak Benteng akan terlihat lautan Maluku, Pulau Tidore, Pesisir Barat Pulau Halmahera dan juga pegunungan, namun dibagian sisi lain terlihat seperti sebuah kota lengkap dengan rumah-rumah dan jalanan yang begitu panjang disertai dengan kendaraan warga setempat. Memang Benteng ini memiliki daya pikat tersendiri karena dikelilingi pemandangan yang sangat komplit. Bagaikan makanan 4 sehat 5 sempurna #halah




Sejarah Benteng Tolukko
Benteng Tolukko didirikan pada tahun 1540 oleh Fransisco Serao, seorang panglima asal Portugis yang meguasai hampir seluruh perdagangan rempah di Ternate pada abad ke 16. Awal mulanya nama Benteng Tolukko ini adalah Santo Lucas yang digunakan sebagai pertahanan sekaligus pusat penyimpanan rempah-rempah yang akan diperdagangkan. Sehingga letak Benteng Tolukko berada di puncak bukit yang cukup tinggi, dapat menjadi tempat yang sangat sempurna untuk mengawasi segala gerak gerik yang terjadi di Istana Kesultanan Ternate. 

Portugis ternyata tidak hanya mendirikan benteng melainkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah yang dituangkan dalam suatu perjanjian. Semenjak adanya perjanjian tersebut, Ternate merasa dirugikan karena harus menjual dengan harga yang sangat rendah kepada Portugis yang kemudian berubah menjadi pemeras. oleh karena itu, Ternate serentak menyatakan permusuhan kepada Portugis.

Setelah perlawanan rakyat Ternate dibawah pimpinan Sultan Babullah, akhirnya kekuasaan Portugis berakhir pada tahun 1577. Sejak saat itu Benteng Santo Lucas dikuasai kesultanan Ternate hingga akhirnya Belanda datang merebut benteng tersebut dan mengganti namanya menjadi Benteng Hollandia. Benteng ini pun dipugar pada tahun 1610 dan dijadikan salah satu pertahanan Belanda di Ternate. Berdasarkan beberapa perjanjian kerjasama pemerintah VOC da kesultanan Ternate. Akhirnya pada tahun 1661 Sultan Ternate bernama Mandar Syah diberi izin untuk menempati Benteng Hollandia dengan personil 160 orang.

Nah untuk nama Tolukko sendiri berasal dari nama penguasa kesepuluh yang duduk di singgasana Ternate yaitu Kaicil Tolukko yang memerintah pada tahun 1692. Akan tetapi ada sumber lainnya menyebutkan bahwa nama Tolukko ini berasal dari tidak jelasnya masyarakat Ternate saat melafalkan Santo Lucas, hingga akhinya Santo Lucas berubah menjadi Tolukko. Sampai saat ini masih tetap dinamakan Benteng Tolukko.

Konstruksi benteng ini terbuat dari berbagai macam jenis batu antara lainnya batu kali, batu karang serta batu pecahan batu bata yang direkat oleh campuran kapur serta pasir. 


Kisah cinta terlarang di Danau Tolire, Ternate


-
-

Danau Tolire yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama terletak sekitar 10 km dari kota Ternate yang memiliki keunikan tersendiri. Siapa sangka keindahannya yang dapat memanjakan mata memiliki kisah yang begitu misterius dari asal muasal Danau Tolire. Sebenarnya Danau Tolire memiliki 2 danau yaitu Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Kedua danau tersebut terdapat kisah cinta yang terlarang yaitu cinta seorang ayah dengan putrinya. Bukan cinta dalam arti selayaknya orang tua yah akan tetapi kisah cinta yang didasari perasaan ingin memiliki satu sama lain.



Kisah Danau Tolire

Konon katanya ada seorang pemimpin desa di bawah kaki Gunung Gamalama yang melakukan hubungan intim dengan putrinya. Setelah hubungan yang memalukan itu diketahui oleh penduduk desa. Sang ayah dan putrinya pun diusir dari desa tempat mereka tinggal. Namun belum sempat mereka pergi, desa tersebut dilanda gempa. Warga desa meyakini bahwa gempa itu adalah sebuah kutukan dari yang maha kuasa akibat perbuatan maksiat sang ayah terhadap putrinya. Akan tetapi, seluruh warga desa terkena imbasnya juga. Desa itu pun terguncang sangat hebatnya dengan keadaan tanah yang retak, muncullah air dari dalam bumi sehingga menenggelamkan seluruh desa beserta penduduk desa kedalam bumi. Akhirnya desa itu pun menjadi sebuah danau raksasa yang dikenal sebagai DANAU TOLIRE BESAR.

Baca Juga : Benteng Tolukko Peninggalan Portugis

Sang putri pun berhasil melarikan diri dari kejadian gempa yang menenggelamkan seluruh penduduk desa. Saat sang putri melarikan diri hingga tepian pesisir laut. Gempa pun terjadi kedua kalinya tepat dibagian tanah yang dipijak sang putri hingga menciptakan danau lainnya yang lebih kecil dan dikenal sebagai DANAU TOLIRE KECIL.

Naasnya penduduk desa pun terkena imbasnya dari perbuatan maksiat sang ayah terhadap putrinya. Sehingga penduduk desa terkena kutukan menjadi BUAYA PUTIH sebagai penjaga Danau Tolire Besar.



Memang kisah ini dianggap sebagai legenda oleh warga setempat. Akan tetapi, keadaan buaya putih diyakini oleh masyarakat karena memang sering kali wisatawan melihat langsung sang buaya yang sedang mengelilingi Danau. Memang buaya itu tak sering tampak ke permukaan. Hanya sesekali saja terlihat adanya buaya di Danau Tolire Besar. 

Keunikan di Danau Tolire

Tapi ada lagi yang lebih unik di Danau Tolire yaitu para penjual batu kerikil. Sempat bertanya kepada anak-anak kecil yang menjajakan batu kerikil perplastik dengan harga Rp. 3.000 saja. 

"Mengapa anak kecil itu berjualan batu?" 

Ternyata setiap pengunjung yang mencoba melemparkan batu ke Danau Tolire maka batu tersebut akan menghilang begitu saja. Tidak ada tanda-tanda cipratan air akibat batu yang dilemparkan ke Danau. Memang hal ini menjadi daya tarik para pengunjung yang datang kesana. Banyak sekali diantara mereka yang terus mencoba melemparkan batu namun hasilnya selalu nihil. Lucunya, ada seorang bapak-bapak berasal dari Cina yang terus mencoba melemparkan batu ke Danau Tolire. Bapak tersebut menghabiskan 4 kantong platik yang berisi batu kerikil. Gak pegel yah si bapak itu secara terus menerus melempar batu ke Danau. Saya saja pegel lempar batu kerikil, padahal hanya 2 plastik yang berisi batu telah saya habiskan. Namun tetap saja nihil #sigh.

Baca Juga : Batu Angus akibat aliran lahar Gunung Gamalama

Biarkan aksi lempar batu ini menjadi gimmick agar banyak para pengunjung yang penasaran melakukan hal yang sama dan merasakan sensasi kesal akibat batu yang dilempar lenyap begitu saja. Entah kemana hilangnya batu tersebut. Sebagian penduduk ada yang mempercayai akibat pengaruh gravitasi bumi yang membuat batu hilang sebelum sampai di permukaan air danau.



Kami para wanita cantik yang berkesempatan menikmati keindahan Danau Tolire secara lagsung memang sangat mengagumi keindahan Danau Tolire Besar. Danau seluas 5 hektare ini memiliki daya pikat tersendiri bagi para pengunjung. Kami dibuatnya terkagum-kagum akan pemandangan indah didepan mata. Air danau berwarna hijau tosca dikelilingi hutan rimbun lengkap dengan Gunung Gamalama yang berselimutkan awan. Membuat kami merasa beruntung karena pemandangannya yang super lengkap.





Tak hanya itu saja, Saya pun merasa beruntung karena bisa travelling bareng idola Marischka Prudence yang sering saya sapa Kak Pru. Kebayangkaannn gimana asiknya saya bisa travelling bareng idola. Tapi bukan itu saja yang membuat saya senang, melainkan saya juga dapat teman baru yang cantik-cantik. Banyak diantaranya dari blogger, diver dan juga social media influencer.

So you guys...kalau datang ke,ari tidak usah bawa batu keikil dari rumah yaaaa. karena disini pun juga banyak anak kecil yang berjualan batu kerikil. Makanan pun tak perlu khawatir karena di Danau Tolire banyak sekali warumg yang menjajakan aneka makanan gorengan, indomie dan juga minuman segar seperti es kelapa.

Cheers,
Dian Juarsa
6 July 2017