Menu

Laman

  • loading...
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Tengah. Tampilkan semua postingan

Wisata Kuliner Solo AJIIIIBBB


-
-

Tujuan utama saya ke Solo adalah penasaran dengan postingan di salah satu social media teman saya yang bernama Avia namun saya selalu memanggil namanya dengan sebutan Ambon atau mbon. 

Saya selalu iri melihat postingannya yang selalu share tentang makanan murah yang ada di Solo. Sempat penasaran bagaimana rasa makanan yang dia beli selama tinggal di Solo. Ambon ini asli Jakarta yang memang sedang bekerja di Solo. Saya pun juga pernah janji kalau saya akan bermain ke Solo untuk sekedar liburan sesaat kalau merasakan penat selama di Jakarta.

Entah mengapa karena rasa bosan tetiba saya langsung pesan tiket ke Solo minggu depan. Hahahhaaa supeerrrr dadakan!!! Saya berani mendadak ke kota orang sendirian karena ada teman saya yang tinggal disana. jujur saya bukanlah orang yang bisa solo travelling. Karena orang bawel itu selalu butuh teman dalam perjalanan unuk menemani saya ngobrol atau bersenda gurau #aheeeyyy

Hari pertama saya di Solo ditemani Andy yang memang asli sana. Dia mengajak saya untuk makan siang ditempat makan kesukaannya si Ambon. Disana jual makanan Selat dan Galantin. Kedua nama tersebut sangat asing di telinga saya, Karena penasaran saya pun akan mencoba makanan tersebut 

Warung Gudeg Favourite nya Avia
Mekarsari adalah salah satu tempat makanan favourite nya si Ambon. Dia seringkali datang kemari untuk makan bersama teman lainnya. Katanya sih cuma disini yang jual Selat dan Galantin terenak menurut lidah doi. Secara yaaa doi kan salah satu chef yang ada di Kota Solo. Jadi saya percaya dengan apa yang dia ucapkan karena memang kalau yang namanya chef agak kritis kalau ngomongin makanan.

Seharian ditemani Andy

Andy ini salah satu teman kerjanya si Ambon yang seharian menemani saya keliling kota Solo. Abege yang super polos dan hobby nya selalu minta maaf ke saya cuma karena takut kalau saya merasa bosan jalan sama dia. Padahal mah kocak banget nih bocah. Masa Solo lagi hujan mulu aja dia minta maaf. Lah itu kan bukan salahnya dia hahahahaa :D

Makanan yang kami pesan

Makanan yang dipesan sedikit lebay karena saya penasaran saja sama makanannya. padahal mah yang ngabisin makanan si Andy. Saya itu memang makannya banyak tapi kalau untuk mencicipi makanan baru ya tidak bisa langsung makan semuanya. Istilah kerennya mah ada tahap adaptasi dulu lah sama lidah saya ini.

Selat Galantin Saos Merah
Selat Galantin yang berisikan wortel, buncis, keripik kentang, daun selada, irisan tomat, keripik kentag dan Kacang. rasanya begitu segar karena ada pedas-pedasnya. Satu porsi ini saja tanpa nasi sudah membuat saya kenyang bahkan saya pun tak sanggup untuk menghabiskan makanan ini. harganya pun tak terlalu mahal.
Selat Galantin Solo

Tahu Acar
Tahu acar ini enak banget, lebih seger lagi dari selat gelantin. hahahaha banyak maunya yah makanan kali ini. Jujur saya  bingung kalau harus review makanan secara mendetail. Saya cuma tau enak dan gak enak saja. hahahahaa...tapi seriusan deh ini enak bangeeetttt.

Sate Kere

Sate Kere 1 porsi 8 tusuk

Green tea ice and Chocolate ice

Rujak di Pasar Triwndhu

Uniknya gerobak es di Solo

Es Dongdong Kelapa

Bakso Tulang Rusuk

Timlo Solo

Terima Kasih Mas Ragil, Avia dan Mba Sari

Cara pembuatan Srabi

Para pekerja sedang sibuk membuat Srabi

Kalau saya sibuk merekam pembuatannya Srabi

Ini dia Srabi Notosuman

[Konflik Keraton Solo] Putri Solo terkurung di Keputren dan harus berpisah dengan anaknya


-
-

Apakah konflik ini akan terus terjadi? Perselisihan antara Raja yang digugat oleh putrinya sendiri sehingga membuat sang putri harus terkurung didalam Keputren dan membuat konflik keluarga pun bukan menjadi rahasia pribadi lagi. Melainkan terkuaknya permasalahan tersebut ke beberapa media. 


Memang tidak dapat dipungkiri permasalahan keraton Solo kerap terjadi dan selalu menjadi perhatian warga sekitar bahkan siapapun yang mengikuti jalan ceritanya seperti apa.

Saya pribadi pun sangat tertarik mengikuti jalan cerita dari konflik sang Raja yang digugat anaknya sendiri hingga berujung ke cucu nya yang tidak dapat bertemu dengan ibu kandungnya.

Putri Raja Keraton Solo yang bernama GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani telah terkurung di dalam Keputren atau kediaman putri-putri raja. Padahal Timoer tidak tahu menahu dengan situasi yang terjadi saat itu di area dalam keraton hingga akhirnya sang putri terkunci dari luar kediaman putri raja, lewat mana pun tetap tidak bisa karena memang telah terkunci dari luar.


Tekanan yang dirasakan sang Putri sangat luar biasa karena sang putri sudah berkali-kali di usir oleh tim lima atau Panca Narendra. Tapi sang putri menolaknya karena kalau pun ada pengusiran atau pengosongan harus atas dasar putusan pengadilan. Maka dari itu, membuat aparat mundur dan tidak berani mengusir sang putri.

Ternyata Tim lima atau Satgas Panca Narendra dibentuk oleh sang raja yaitu Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi. Itulah alasannya sang putri yang bernama GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani (Putri Raja) dan BRM Aditya Soerya Harbanu (Putra Raja) menggugat ayah kandungnya sendiri.   Gugatan tersebut telah tercatat di Pengadilan Negeri Surakarta pada hari Rabu, 15 Maret 2017.

Alasan dari gugatan tersebut adalah karena raja Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi telah membentuk tim lima atau Satgas Panca Narendra pada akhir Februari lalu. Dengan adanya pembentukan tim lima telah dinilai sebagai tindakan melanggar hukum. Karena kondisi sang raja sakit permanen, stroke. Bahkan polisi pun sulit memanggil yang bersangkutan. Maka dari itu pengadilan diminta untuk  membatalkan pengukuhan tim lima karena tim tersebut tidak berdasarkan hukum atau melanggar hukum.

Karena perbuatan Paku Buwono XIII Hangabehi dinilai merugikan penggugat dan Keraton Surakarta karena Keraton tidak dapat mencairkan dana dari provinsi untuk keraton senilai RP. 900juta untuk bayar gaji abdi dalem sebanyak 500 orang. Selain itu, Biaya untuk upacara adat pun tertahan sebesar Rp. 200juta. Tindakan tersebut juga dianggapnya telah menyebabkan wibawa keraton hilang karena telah menimbulkan kerugian immateril senilai Rp. 1 miliar. Karena perbuatan melanggar hukum tergugat harus mengganti kerugian materiil maupun non materiil yang ditimbulkan karena perbuatannya.

Di dalam keputren, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani tak sendiri melainkan ada 4-5 orang abdi dalem perempuan yang juga ikut terkunci yaitu G.K.R. Retno Dumillah, K.R.M.H. Aditya Soeryo Harbanu, Keponakan Rumbai, Yudhis dan istri K.G.P.H Puger. Tak hanya itu, Timoer pun harus berpisah dari anaknya berumur 9 tahun yang bernama B.R.M Soeryo Pramuditho Adiwiwaha. Anaknya ini terus menangis karena tidak dperbolehkan masuk ke dalam Keraton dan tidak bisa menemui Ibunya Putri Solo yang terkurung di Keputren. 

Perpisahan yang terjadi antara Putri Solo dan anak kandungnya telah mencuri perhatian saya karena beberapa video yang tersebar di instagram Lambe Turah membuat saya tertarik mengikuti jalan cerita kerajaan. 

Padahal dari dulu saya tidak begitu tertarik dengan masalah yang mengandung unsur politiknya. Tapi disini ada cerita keluarga dibalik permasalahan yang terjadi. Mungkin anaknya ingin agar ayahnya tidak terlalu memaksakan diri dengan merugikan hak orang lain. Semoga saja kedepannya tidak ada lagi permasalahan keluarga yang membuat harus terpisahnya ibu kandung dengan anaknya sendiri. Sungguh, walaupun saya belum menjadi seorang ibu tapi saya sangat sedih melihat beberapa cuplikan video yang terlihat dari sang anak yang begitu sedih harus terpisah oleh ibunya dan hanya diberi kesempatan selama 3 jam saja untuk bertemu. 





Solo Traveler ke Umbul Ponggok


-
-
Umbul Ponggok

Waktu terasa begitu cepat, sudah 3 hari saya bermain di Solo. Memang kalau yang namanya liburan ke suatu tempat pasti tak terasa sudah hari terakhir saja. 


Pagi yang cerah membuat saya malas beranjak dari kasur. Entah mengapa belakangan ini saya tidak terlalu excited dalam melakukan perjalanan. Biasanya kemana pun saya akan melakukan perjalanan pasti akan mencari destinasi wisata yang akan saya kunjungi. Tapi sudah beberapa bulan terakhir saya merasa hanya ingin jalan tanpa melakukan perencanaan apapun.

Tepat pukul 09.00 AM saya memaksakan rasa malas agar segera sirna. Secepat mungkin saya ke kamar mandi agar badan terasa segar dan dapat melakukan aktivitas. Namun sayangnya Avia tidak bisa menemani saya kali ini karena dia harus segera kerja. Gak mungkin saya seharian di kostan nya Avia, langsung saya cari tau alamat Umbul Ponggok berada dimana.

"Mbon disini ke Umbul Ponggok bisa gak yah pake Gojek? Solo udah ada Gojek dong" Tanya saya penasaran
"Udahlah diiii...Coba deh lo search kayanya gak sampe 25km. masih deket lah dari kostan gw, Sejaman juga sampe" Jelas Avia

Saya pun langsung membuka aplikasi gojek (Guys ini bukan endorse yah, karena transportasi online lebih mudah). Akhirnya dapat juga driver yang mau mengantarkan saya kesana.

"Yeesss dapet!! Oke mbon gw cabut yah, udah di depan drivernya" Sahut saya kegirangan
"Yaudah hati-hati diii, Jangan pecicilan" Jawab Avia cepat
"Iyeeeee kaga" Secepat mungkin saya lari kedepan.

Benar saja driver nya sudah menunggu saya didepan kostan. Biasanya saya selalu ngatain teman kalau mereka sedang telpon-telponan sama abang gojek macam lagi blind date aja gitu. Hahhahaa...

"Bang tau tempatnya gak?" Tanya saya sembari ambil helm
"Gak tau mba tapi kan ada google maps" Jawab driver sambil nyengir
"Yaudah kalo gitu, tar kalau sinyalnya ilang ditengah jalan. kita tanya orang aja ya bang. Yuk bang jalan" ujar saya secepat kilat

Bukan apa, terkadang kalau dijalan yang masuk agak kedalam dari kota itu suka susah sinyalnya. Jadi saya mau kalau abang gojeknya gak tau jalan jangan sampai sok tahu. Makanya saya bilang kalau sinyalnya ilang kita tanya orang aja. (Pengalaman pribadi karena sering dapet abang gojek yang sok tau).

Yah namanya juga cewe bawel yah, jadi gak bisa tuh kalo dijalan diem-dieman tanpa obrolan sedikitpun. Saya itu kalo berubah jadi pendiam tandanya lagi laper, capek atau badmood. Makanya teman saya suka aneh kalau saya berubah jadi cewe pendiam.

***

"Bang tiap hari gojek nih?" Tanya saya penasaran
"Oohh engga mba, saya masih kuliah disini" Jawab abang gojek sembari menganggukan kepala
"Waahh keren, kuliah sambil cari duit tambahan yah. Good job!!" Sahut saya yang sibuk pegang helm karena kegedean
"Ah mbak bisa aja..Lumayan buat tambah-tambah. Mbak bukan asli Solo yah? logat bicaranya beda" Tanya abang gojek kepo
"Bukan bang, Saya dari Jakarta lagi liburan aja kesini. Abis bosen di Jakarta mulu ahahaha" Jawab saya ngelantur
"Tapi mba hebat yah, berani ke Umbul Ponggok sendirian. Saya aja yang sudah bertahun-tahun disini, gak tau apa itu Umbul Ponggok mba" Jelas abang gojek yang terlihat antusias sekali
" Apaaaa...keterlaluan abang ini. Masa gak tau sih segitu deket dari tempat abang. Waahhh gak bener ini" Jawab saya agak drama dikit
Gak lama saya ucap seperti itu kami pun tertawa berdua dan masih melanjutkan cerita yang semakin seru.

Memang saya itu kadang suka ingin tahu apa yang dikerjakan para gojek karena biasanya gojek itu kebanyakan kerjaan sampingan mereka saja. Lagipula biar ada obrolan aja sih karena bosan kalau cuma diam aja selama dijalan.

***

Tak terasa sudah 50 menit diperjalanan, Sampai juga di tujuan Umbul Ponggok. Tempat yang terlihat seperti kolam renang dengan fasilitas seperti pelampung dan alat snorkle pun ada.

"Turun disini aja bang, Berapa bang?" Tanya saya sembari cari dompet
"Jadi 50.000 aja mba. Nanti mba Dian pulangnya gimana?" Tanya abang gojek penasaran.
"Gampaanggg...Tar pesen gojek lagi aja bang" Jawab saya buru-buru
"Tapi mba..........." Jelas abang gojek yang tidak saya dengar lagi kelanjutannya

Tepat di ujung dekat patung ikan
Sesampainya di Umbul Ponggok, saya harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 15.000 plus dapat biskuit sekantong kecil, bisa kita makan atau bisa juga untuk ikan disana. 

Memasuki Umbul Ponggok sama seperti masuk tempat renang biasa namun bedanya kolam ini berasal dari sumber mata air alami yang masih sangat jernih. Disana ada kegiatan menyelamnya juga loh. 

Saya sempat agak aneh karena datang sendirian, Sedangkan pengunjung yang berdatangan kesana mayoritas adalah keluarga atau bareng bersama teman-temannya. Beda halnya dengan saya yang masuk kolam celingak celinguk mencari tempat yang asik buat santai sejenak. Sampai akhirnya saya melihat toilet yang dilengkapi dengan loker. Harga sewa dari loker Rp. 5.000. Harga masuk toilet Rp. 2.000

Sebenarnya saya disini sedang scanning Umbul Ponggok

Setelah saya berganti pakaian dan mempersiapkan kamera yang sudah ditangan. Saatnya mencari tempat yang asik buat menyelam. Sepanjang kolam saya susuri dengan melihat keadaan sekitar. Yaaahhh bisa dibilang sedang scanning lokasi karena ada banyak pengunjung yang asik bermain air secara rame-rame.

"Cari temennya gimana yaaaa" Pikir saya dalam hati

Memang ini kedua kalinya saya menjadi solo traveler, sebelumnya waktu di Bali walaupun solo traveler tapi ada supir yang menemani saya kemana pun saya pergi. Nah kalau ini benar-benar tidak ada teman sama sekali. 

Oke kalo giu kita jalan aja terus sampai ke patung ikan. Nanti disana bisa melihat kondisi sekitar. Apakah ada pengunjung yang bisa saya ajak berkenalan atau tidak? agar saya tidak merasa sendirian banget. 

Maklum sebenarnya saya itu orang yang gak cocok jadi solo traveler. Karena hal yang paling gak enak adalah diam saja tanpa bicara sama sekali. Namanya juga bawel, jadi gak tahanlah gak ngomong sedikitpun.

Karena tidak dapat titik terang segitu saya sudah mengajak ngobol bapak-bapak yang sudah lengkap dengan pakaian selamnya. Tapi terlihat dari mukanya kalau bapak ini kurang ramah, ditambah lagi seperti riskan diajak ngobrol oleh saya. Yasudahlah saya nyemplung aja dulu di kolam dengan kedalaman 3 meter. Saya tidak terlalu lama menyelam karena tidak kuat dingin.

Lebih jernih kalau di tempat yang lebih dalam

Air di kolam Umbul Ponggok terasa sangat dingin sekali, Sama saja seperti saya sedang bermain di curug leuwi lieuk. Kondisi air dingin seperti ini sangat saya takutkan karena dulu sempat hampir tenggelam saat kedua kaki saya keram. Saya hanya mengandalkan tangan yang terus saya gerakkan agar tidak tenggelam. Untungnya saya masih bisa teriak minta tolong jadi teman-teman saya dengan cepat menolong saya dari dalamnya curug leuwi lieuk.

Umbul Ponggok merupakan tempat wisata air tawar yang berbentuk seperti kolam renang. Umbul ponggok sendiri terdiri dari dua suku kata yaitu Umbul yang berarti Mata Air dan Ponggok adalah nama daerah setempat. Jadi Umbul Ponggok adalah Mata Air yang terdapat di desa Ponggok. 

Dulu Umbul Ponggok ini selalu dipakai warga setempat untuk mencuci pakaian, mencuci motor atau tempat anak kecil bermain air. Namun kini Umbul ponggok sudah dijadikan tempat wisata air tawar yang sudah banyak dikenal masyarakat umum. Sehingga tempat ini selalu ramai pengunjung saat weekend.

Memang duduk di bawah patung ikan itu lebih enak karena kedalaman air sekitar 2 - 3 meter. Kalau foto ditempat yang lebih dalam sudah dipastikan hasil fotonya jernih banget. Karena tidak ada pasir yang naik keatas akibat injakan kaki. Tapi saya gak berani lama main air ditempat dalam, takut tenggelam.
Perkenalkan teman baru Reza, Dian dan Tezar



Tidak lama saya bermain air ditempat dalam, Akhirnya saya pun memutuskan untuk pindah tempat. Saat saya akan pindah tempat ada dua sejoli yang lengkap memakai pelampung dan alat snorkle. Saya pun menanyakan harga sewa pelampung dengan snorklenya. 

Jadi harga sewa pelampung Rp. 7.000 kalau alat snorkle nya Rp. 13.000. 

Setelah tau harga sewa nya saya pun bergegas untuk sewa pelampung tapi prosesnya agak ribet. Masa ditanyain kartu pengenal atau KTP ataupun SIM. Yasalaaaammmm saya tuh mau minjem pelampung doang loh. Kok pake KTP segala sih. Karena ribet akhirnya saya mengurungkan niat untuk sewa pelampung.

Akhirnya saya pun mencari tempat yang lebih dangkal, saya duduk disebelah anak kecil yang sedang bercanda dengan kakaknya yang masih berumur belasan tahun. 

Nah disanalah saya mulai punya teman baru karena saya ajak mereka untuk bisa foto bareng didalam air (Padahal mah modus biar saya bisa difotoin juga hihihii...)

Ternyata mereka tidak cuma berdua saja tapi bertiga dengan kaka yang satu lagi. Kenalan lah dengan mereka bertiga namanya Tezar yang tinggal di Jogja, Reza tinggal di semarang dan yang paling kecil Nayaka yang memang asli dari Klaten.


Mermaid Failed!!!
Awalnya Reza dan Nayaka malu-malu saat saya mengajak mereka untuk difoto dalam air. Mereka menolak mentah-mentah ajakan saya dong. Mungkin mereka takut dengan saya. Emangnya saya ada tampang jahatnya apa ya #hiks

Tapi ternyata kaka nya yang paling besar datang dan menyuruh Reza untuk berfoto didalam air. Keduanya menggunakan bahasa campuran yang beberapa kalimat tidak saya mengerti. Karena ajakan Tezar dengan adik sepupunya itu, Akhirnya mereka semua menerima tawaran saya. Uhuuuuyyyy berhasiilll YES!!

Tezar yang paling jago renang dan gak takut ikan

Perkenalkan teman baru saya yang bernama Tezar. Berkat dia loh adik sepupunya menerima tawaran saya. Mungkin dia juga mau ikut foto kali yah hahahahaaa...

Tezar ini tinggal di Jogja, Tapi keluarganya tinggal di Palembang. Kedatangannya ke Umbul Ponggok ikut adik sepupunya Reza ke klaten untuk menghadiri acara kumpul keluarga dari mama nya Reza. Tezar pun juga pertama kalinya datang ke Umbul Ponggok. 

Selama di Umbul Ponggok memang Tezar ini yang paling bisa diandalkan. Pertama dialah yang kuat tahan nafas didalam air jadi kalau fotoin saya pun bisa bertahan lama, Kedua bisa nemenin saya kalau takut liat ikan yang menghampiri dan Ketiga dia juga lah yang menanyakan penjaga umbul Ponggok apakah ada kendaraan yang bisa disewa untuk antar saya pulang. Karena ternyata aplikasi Gojek tidak dapat dipakai selama di Klaten #huft

Tezar yang rela bajunya ditarik-tarik karena saya takut ikan gede

Kendalanya saat menyelam di Umbul Ponggok adalah banyak nya ikan gede didalam air. Ikan ini memang sengaja di jaga agar kelestarian lingkungan dalam airnya tidak berubah. Karena dulu sebelum menjadi Umbul Ponggok tempat ini pun sering dijadikan tempat pemancingan warga setempat. Maka dari itu, Ikan didalam air tawar ini memang alami bukan sengaja di tambah oleh warga.

Saya phobia dengan ikan gede karena dulu bapak saya pernah pelihara ikan lele. Kolam ikan kecil memang adanya tepat didepan jendela kamar saya. Jadi pemandangan tiap pagi lihat congor a.k.a mulutnya ikan lele yang lagi mangap karena dikasih makan sama bokap, dari situ saya jadi takut sama ikan yang berwarna gelap dan besar.

Nah di Umbul Ponggok banyak beragam ikan yang berwarna warni bahkan yang gede sekalipun ada. Makanya saat saya menyelam sempat kaget karena papasan sama ikan yang bercongor mancung. Walhasil mau foto agak ketengah sedikit pun bareng ikan minta ditemenin Tezar sampe kaosnya saya tarik hihihii...Maaf yoooo

Ini Reza tiap renang masih aja pake topi. hadeeuuhhh..
Akhirnya Reza berhasil foto dengan topinya di dalam air

Ini dia Reza sepupunya Tezar yang sudah menolak saya mentah-mentah hahahahaa...

Reza ini memang agak pemalu. Saya tanya aja jawabnya sambil cengar cengir malu-malu. Maklumlah masih anak sekolah yang baru gede jadi agak agak pemalu gitu. Reza tinggal di Semarang sedang berkunjung ke rumah neneknya yang tinggal tidak jauh dari Umbul Ponggok. kedatangannya tidak hanya liburan saja melainkan menghadiri acara keluarga unuk mengantarkan neneknya Reza berangkat umroh.

Kalau ditempat yang lebih dangkal tidak terlalu jernih
Kedalaman hanya 1 meter saja

Buat kalian yang mau foto underwater ada baiknya di tempat yang lebih dalam karena kondisi air akan lebih jernih. Seperti foto kami diatas tidak terlalu jernih karena bebatuan yang kami pijak ada pasirnya dibagian bawah sehingga membuat pasir itu naik keatas dan membuat foto tidak terlalu jernih. 

Di Umbul Ponggok ini juga menyediakan jasa photo underwater Rp. 250.000. jadi buat kalian yang mau photo prewed didalam air juga bisa memakai jasa mereka. Tapi tak hanya untuk prewed saja, kalau kalian tidak membawa atau tidak punya kamera underwater. kalian juga bisa memakai jasa mereka dengan properti lengkap sesuai keinginan. Disana ada tiang berbentuk hati, motor, sepeda, TV dan banyak macam lainnya.


Ikan sekecil ini sih masih beranilaaahhh

Kolam alami yang tidak terlalu dalam

Tak terasa waktu semakin siang, Saya pun harus bergegas karena masih ada destinasi lainnya yang harus saya kunjungi. Maka dari itu, Saya cari tahu dulu kendaraan apa yang bisa saya gunakan untuk sampai di Solo. 

Ternyata aplikasi gojek masih belum bisa digunakan di Klaten. Mungkin bukan gak bisa yah melainkan tidak ada supir gojek yang berkeliaran di Klaten. Setiap saya pesan gojek sudah dipastikan akan terus loading mencari keberadaan gojek yang terdekat. Hasilnya pun NIHIL!!!

Maafkan... Tiket Umbul Ponggok yang benar Rp. 15.000

Karena sudah menggigil jadi naik keatas

Motor dibelakang kami adalah properti untuk foto di dalam air 

Akhirnya saya memutuskan untuk cepat berganti pakaian lalu cari tau apakah saya bisa balik ke Solo dengan cara lainnya. 

Sebenarnya Tezar sudah menanyakan ke beberapa pengunjung, diantaranya hanya bilang "kenapa gak bawa kendaraan sendiri kesininya soalnya disini tidak ada angkutan umum". Mungkin itu bukan solusinya yah sodara-sodara, kan Tezar bertanya kenapa malah tanya balik #tepokjidat

Sate Madura tepat depannya Umbul Ponggok

Setelah kelar bersih-bersih saya pun berpamitan dengan Tezar, Reza dan Nayaka. Kami sudah bertukar nomor handphone karena saya harus kirim foto mereka kalau sudah dapat sinyal. Belum lagi juga handphonenya Tezar mati.

Sesampainya di luar Umbul Ponggok saya langsung menanyakan kendaraan ke tukang parkir berharap dapat solusinya. Benar saja, Tukang parkir itu telah membantu saya untuk mencarikan warga setempat yang bisa mengantarkan saya ke Solo. Akhirnya saya bisa pulang dengan perasaan lega.

Sebelum balik ke Solo, Saya pun mencari makan siang. Disana saya tergoda dengan sate maduranya. Ada mbak-mbak cantik yang lihai memainkan kipasnya agar sate cepat matang. Disana saya mengobrol banyak sekali dengan penjaga sate yang cantik itu. Menurut info yang saya terima kalau Umbul ponggok pernah memakan korban jiwa. Ada yang pernah tenggelam disana. makanya guys, mau kalian renang dimana pun memang diharuskan pemanasan agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi. 


Umbul Ponggok
Ponggok, Polanharjo, kabupaten Klaten
Jawa Tengah 57474

Tiket Masuk : Rp. 15.000
Sewa Pelampung : Rp. 7.000
Sewa Snorkle : Rp. 13.000
Paket Photo Underwater : Rp. 250.000

Buka Setiap Hari : 07.00 AM - 17.00 PM  

Selasa, 28 February 2017
  • 10.05 AM - 11.10 AM    Tiba di Umbul Ponggok
  • 11.10 AM - 12.50 PM    Menghabiskan waktu di Umbul Ponggok
  • 12.50 PM - 13. 10 PM   Makan Sate Madura
  • 13.10 PM -  14.20 PM   Balik dari Umbul Ponggok ke Solo

BUDGETING
  • Gojek dari Solo ke Umbul Ponggok Rp. 50.000
  • Sewa loker & Ke toilet Rp. 7.000
  • Makan Sate Madura Rp. 15.000
  • Sewa warga setempat balik ke Solo Rp. 50.000


Perjalanan dari Solo menuju Air Terjun Tirtosari Sarangan melalui jalur Tawangmangu


-
-

Senin, 27 Feb 2017 Pagi itu rencana perjalanan kami memang seharusnya dari pukul 10.00 AM untuk menuju Air Terjun Tirtosari. Tapi ada salah satu temannya Avia yang tidak bisa join dan tidak ada info sama sekali membuat kami harus menunggu sampai sejam lebih. Kesel? Pastinya....Gimana tidak, Kalau memang gak bisa kan bisa info kita sedari tadi agar kita bisa cari penggantinya yang mengantarkan kami untuk jalan kesana. Oke kita skip aja cerita ini yah, Yuukkk lanjutin lagi yang lainnya.


Bermodalkan 2 motor yang ditemani oleh Avia, Novi dan mas Arif kami pun mulai meluncur dengan kecepatan rata-rata karena masih di Kota Solo. Saya diboncengi mas Arif sedangkan Avia dibonceng Novi. Jangan salah loh, Novi ini walaupun cewe juga pembalap. Bawa motornya gak pake rem. Hahahahhaa...

Pukul 11.30 AM siang itu sangat terik, Saya bersemangat sekali untuk bisa cepat sampai ditujuan karena cuaca sangat mendukung perjalanan kami. Jalan raya yang begitu luas dengan jumlah kendaraan tidak terlalu banyak membuat mas Arif makin melaju lebih cepat lagi dengan angin yang terus berbunyi kencang ditelinga saya. Sepanjang diperjalanan saya bercerita dengan Mas Arif. Apapun bisa jadi obrolan selama di perjalanan yang memakan waktu hingga 2 jam untuk sampai di Air Terjun Tirtosari yang terletak di Desa Ngancar, Kecamatan Ploasan, Kabupaten Magetan, Jawa timur.



Tak disangka perjalanan kami dari Karanganyar - Tawangmangu - Cemoro Sewu Gunung Lawu - Talaga Sarangan ternyata memiliki keindahan yang sangat luar biasa Takjub. Memang siang itu cuaca dalam keadaan tidak menentu. Kadang panas namun tak menutup kemugkinan cuaca berubah jadi hujan deras. Beruntungnya selama perjalanan di Tawangmangu kondisi cuaca hanya mendung saja, jadi kami bisa berhenti sejenak hanya untuk mengabadikan suasana yang begitu dramatis selama dijalan. 

Pegunungan yang tertutup oleh kabut bagaikan foto yang saya lihat saat cari tahu tentang New Zealand. Memang pemandangan apapun yang ada di Indonesia tak kalah menakjubkan dari negara lain. Saya beruntung menjadi warga Indonesia karena kaya akan pemandangan indahnya, belum lagi kaya akan budaya nya juga. 



Penuh keindahan selama perjalanan di Tawangmangu
Mampir sejenak untuk menikmati keindahannya
Saat diperjalanan Tawangmangu kami melewati sekumpulan orang yang padat memenuhi jalan. Entah apa yang terjadi karena disana pun banyak mobil polisi yang parkir.
"Ada apa yah mas? kok rame banget gini sih" Tanya saya ke Mas Arif
"Semalam ada yang kecelakaan disini. Satu bis masuk jurang dan banyak makan korban jiwa" Jawab Mas Arif sembari mata melihat lokasi kejadian.

Yah begitulah perjalanan disana yang memang beraspal baik namun kelokannya tajam dan banyak. Penerangan di Tawangmangu memanglah sangat minim. Bahkan sepanjang jalan saya hanya melihat lampu yang menghiasi rumah-rumah warga. Tidak ada lampu jalan selama diperjalanan. Makanya kalau jalan di tawangmangu ada baiknya jangan di malam hari karena akan sangat berbahaya. Ditambah lagi jangan terlalu sok jago dengan ngebut selama diperjalanan. Walaupun aspalnya tidak terlalu banyak lobang tapi kalian tidak akan pernah tau kelokan mana yang patah. 

Jalan beraspal yang baik di Tawangmangu

Setelah melewati lokasi kejadian kecelakaan tak lama kemudian hujan pun turun. Awalnya hanya gerimis saja yang membuat kami semua malas untuk memakai jas hujan. Namun tak lama kemudian air hujan pun semakin deras membuat kami semua sibuk menyelamatkan gadget yang ada di dalam tas masing-masing.

Saat diperjalanan saya sempat kedinginan karena jaket yang saya pakai tidak terlalu tebal. Memang saya tidak menyangka kalau perjalanan menuju Air Terjun Tirtosari bisa sedingin ini. Saya pikir cuaca akan sangat terik sekali, Makanya malas untuk pakai jaket yang terlalu tebal. Memang yang namanya cuaca akhir-akhir ini tidak dapat diprediksi kembali. Seharusnya maret sudah cerah tapi masih saja ada hujannya.

Magetan Sarangan "Lake to Remember"
Memasuki Kawasan Telaga Sarangan akan dikenakan biaya tiket masuk Rp. 7.500/orang. Tidak jauh dari lokasi tiket masuk kami sudah disuguhkan danau seluas 30 hektar dengan kedalaman 28 meter. Nama danau itu yaitu Telaga Sarangan. 

Obyek wisata satu ini memang diminati oleh para keluarga karena tempatya yang nyaman bagi anak-anak ditambah lagi banyak pedagang kaki lima yang menjajakan aneka ragam makanan, ada juga yang berjualan baju, topi, boneka sampai aneka souvenir lainnya dipinggir Telaga Sarangan. Bagi kalian yang juga mau mencicipi sate kelinci, disinilah tempatnya pedagang banyak yang berjualan sate kelinci.

Telaga Sarangan bareng Avia
Udaranya yang sejuk khas pegunungan karena Telaga Sarangan ini berada di kaki Gunung Lawu memang menyajikan pemandangan yang begitu indah dengan dikelilingi bukit-bukit hijau. Selain itu, Telaga Sarangan juga terdapat wahana wisata unuk mendukung kegiatan wisata disana. Seperti pengunjung dapat berkeliling Telaga Sarangan dengan menggunakan boat atau mungkin bisa berkeliling pinggir danau dengan menyewa kuda. Maka dari itu, tempat ini memang cocok untuk rekreasi keluarga. 

Perahu Boat di Telaga Sarangan Rp. 60.000/orang
Sebelum terbentuknya Telaga ada sebuah cerita yang diyakini oleh warga setempat. Konon ceritanya Kyai Pasir (Kyai Jalilung) dan Nyai Pasir (Nyai Jalilung) adalah sepasang suami istri yang hidup di lereng Gunung lawu yang begitu subur. Keduanya membuat pondok yang terbuat dari kayu hutan yang beratapkan dedaunan. Dengan pondok yang sederhana itu mereka sudah merasa sangat aman dan tidak takut akan bahaya gangguan dari binatang buas. Karena mereka sudah hidup lama dihutan, Jadi tau akan marabahaya selama hidup dihutan.

Pada suatu hari pergilah Kyai Pasir untuk bercocok tanam di ladang sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari. Oleh karena itu, Kyai Pasir harus menebang pohon satu demi satu terlebih dahulu. Tiba-tiba Kyai Pasir terkejut karena menemukan sebutir telur di dekat pohon. namun kyai Pasir sempat bingung itu telur apa? karena disekitar ladang tidak tampak binatang unggas seekor pun yang biasa bertelur. Tanpa pikir panjang, Kyai Pasir pun membawa telur kerumah dan diberikan kepada istrinya.

Setelah penemuan telur tersebut, Kyai Pasir menceritakan kepada istrinya dan akhirnya sepakat untuk merebus telur itu. Kyai Pasir makan setengah telur dan istrinya pun makan setengah telur.

Kyai Pasir kembali ke ladang setelah memakan telur yang ditemukannya sebelumnya. Namun setelah tiba diladang sekujur tubuhnya terasa sangat panas sehingga membuat Kyai Pasir terguling-guling di tanah. tak lama kemudian tubuhnya merasakan hal yang aneh, kini tubuhnya pun berubah wujud menjadi ular naga yang besar masih terus berguling kesana kemari tanpa henti.

Gak lama Kyai Pasir mengalami hal yang aneh, Nyai Pasir pun pergi ke ladang karena mengalami hal yang sama seperti Kyai Pasir alami. Sekujur tubuhnya terasa sangat panas. Sesampainya di ladang Nyai Pasir pun kaget karena perubahan Kyai Pasir. Namun akibat sekujur tubuhnya terasa panas yang hebat, Nyai pasir pun tak tahan sehingga terguling-guling tiada henti sama seperti apa yang dilakukan Kyai Pasir. Dan akhirnya Nyai Pasir pun ikut berubah wujud menjadi seekor naga yang sangat besar. Keduanya berguling-guling yang menyebabkan tanah menjadi berserakan dan membuat sebuah cekungan semakin lama cekunga tersebut semakin meluas. Tiba-tiba cekungan menyembur air yang besar memancar keseluruh cekungan. Dalam waktu sekejap cekungan tersebut sudah dipenuhi dengan air da ladang Kyai Pasir berubah menjadi sebuah kolam besar yang disebut Telaga Pasir. 

Sejak kejadian itulah masyarakat setempat tiap setahun sekali tepatnya pada hari Jum'at Pon Bulan Ruwah akan selalu diadakan acara Larung Tumpeng/Larung Sesaji. Upacara ini adalah salah satu ungkapan rasa syukur masyarakat desa. Dalam upacara ritual ini, masyarakat melarung persembahan atau sesaji ke tengah Telaga.
  
Pebukitan yang dilengkapi dengan persawahan
Selain Telaga Sarangan di kawasan ini pun ada air terjun yang bernama Air Terjun Tirtosari Sarangan. Bagi kalian yang masih juga belum capek, bisa melanjutkan dengan motor atau kuda sejauh 1.5 km. Selebihnya harus berjalan kaki sejauh 1 km. Karena jalur yang dilalui tidak dapat dilintasi oleh motor atau bahkan kuda sekalipun.

Saat dipertigaan kami menemukan sebuah loket untuk bayar tiket masuk. Biaya perorangnya Rp. 5.000 beserta asuransi Rp. 2.000. Agak bingung karena gapura depannya tertulis Wana Wisata Ngadiloyo.

"Mas Arif salah kali...Ini bukan air terjun Tirtosari. kok namanya Ngadiloyo" Tanya saya kebingungan.
"Bener kok ini jalur ke Air Terjun Tirtosari, Sebelumnya kan saya abis dari sini juga" Jawab Mas Arif meyakinkan.

Saya pun tidak menanyakan dengan bapak penjaga tiketnya karena sudah sibuk dengan kondisi tangan yag penuh dengan kamera dan juga handphone. 

Kami melanjutkan perjalanan kembali masih diatas motor dengan kondisi jalan yang sempit dan hanya bisa dilalui 2 motor dari arah berlawanan. Turunan yang tajam membuat saya harus memegang batang jok motor dipegang erat agar tidak merosot kedepan. Jalanan yang tak begitu halus membuat Mas Arif harus jaga keseimbangan agar tidak terjatuh.


Masih terus menurun sampai akhirnya kami menemukan banyak motor yang berjajar didepan warung sembari memarkirkan motornya dan saya sibuk melepaskan jas hujan yang masih menempel dibadan.

"Mungkin motor bisanya sampai sini kali" tungkas saya
"Emang cuma sampai sini aja, nanti kita lanjut jalan kaki kesananya" Jelas Mas Arif
"Jauh banget gak mas?" tanya saya penasaran
"Lumayan sih agak jauh tapi gak sampe sejam kok kesananya" jawab Mas Arif sambil tersenyum seperti menutupi kebohongan. Hah!!

Agak tidak percaya denga apa yang dikatakan Mas Arif karena saya yakin pasti kondisi Air Terjun sangatlah jauh. Lagi lagi kami menemukan turunan yang tajam dengan pemandangan yang begitu indah.

Gradasi warna hijau yang beragam

Banyak tumbuhan sayur mayur yang terlihat dengan aneka ragam warna hijau. Dari hijau muda hingga hijau tua pun ada. Sempat berpapasan dengan seorang nenek, entah apa yang dilakukannya sembari menodongkan gelas ke kami. ternyata nenek itu sedang meminta-minta. Bingung sih, Karena biasanya ditempat pelosok tidak pernah ada minta-minta loh. Karena kan sepi pengunjung untuk ke Air Terjun Tortosari. Tapi entahlah disaat weekend, mungkin Air Terjun Tirtosari selalu ramai oleh pengunjung. 

Tidak ada kata menyesal dengan pemandangan yang menakjubkan ini
Sawah petakan ini membuat pemandangan semakin ciamik
Bukit hijau yang mengelilingi jalan setapak seakan kami sedang berjalan dilereng-lereng bukit dengan pesona indahnya. Sawah yang berpetak pun menghiasi keindahan perbukitan. Guratan tanah yang bergaris oleh tumbuhan hijau seakan melukiskan bagian petakan persawahan. Memang sangat beruntung penduduk disini karena setiap harisnya selalu disajikan pemandangan yang indah dengan udara sejuk.
Mata kami tidak ada kata habisnya dimanjakan oleh hijaunya persawahan dan perbukitan. Sesekali saya selalu mengatakan "Woooww" saking takjubnya dengan pemandangan disini. 

Tak lama matahari bersinar, langit berubah menjadi sangat gelap. Kaki kami pun melangkah begitu cepat karena sudah dipastika akan kehujanan selama perjalanan menuju air tejun tirtosari. yah benar saja rinikan gerimis sudah mulai turun tapi tak lama kemudian gerimis sudah berhenti. 

"Hmmmm...hujannya seperti mau tidak mau" seraya dalam hati

Masih melanjutkan perjalanan kami melintasi bendungan dari aliran sungai tirtosari. Saya dan Avia langsung turun kebawah untuk sekedar mengabadikan bendungan tersebut karena saya tertarik ada batu berdiri tumpuk dengan seimbang.

kalian pasti tidak tahu kalau ini hanya Bendungan air 

Lihat lah batu yang tersusun rapi dengan seimbangnya


Tadaaaaa...Ini dia bendungannya hohoho..

Kami harus melintasi bendungan ini untuk menuju air terjun tirtosari karena perjalanan kami masih sangat jauh. Sempat mas Arif menanyakan kepada kami apakah masih kuat jalan atau tidak. Mungkin mas arif melihat muka kami agak pucat pasi. Yah pucat...akibat kelaparan belum makan siang dan minuman pun tidak bawa. 

"Mau lanjut gak nih?" Tanya mas arif
"Emang berapa jauh lagi sih" Sahut Avia
"Gw sih hayok aja tapi gw lapeeerrrr" Saya pun menjawab dengan muka memelas
"Lanjut aja yuk udah mau sore nih" Novi pun ikut bicara

Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan. Rintikan hujan mulai agak deras dengan cepat kami melangkahkan kaki menuju atas yang masih juga belum terdengar suara air terjun. Sepertinya posisi kami masih sangat jauh. 

Ada beberapa anak tangga yang harus kami lalui sampai akhirnya saya pun seperti mau menyerah karena badan sudah agak gemetar akibat kelaparan. Beberapa warung yang kami temui tutup. pantas saja tutup karena saat kami kesana hari senin yang artinya tidak banyak pengunjung yang akan datang ke air terjun tirtosari. Karena pada dasarnya tempat wisata selalu ramai pengunjung disaat weekend saja. 

Tanpa menyerah sedikit pun ada mas-mas yang melihat muka saya ingin mendobrak pintu warung.

"Mba kenapa? capek yah?" Tanya mas bertopi hitam
"Saya lapeerr maasss, gak ada penjual apa ya" Tanya saya dengan muka agak pucat
"Mba mau sate? saya jualan sate mba diatas. kalau mau saya cepat-cepat naik keatas bikin sate buat mba" Jawab mas bertopi hitam
"wah boleh mas, kalian pada mau gak sate?" Tanya saya kepada teman lainnya
"gw mau dong" jawab avia
"aku juga mau" sahut Novi
"kamu gak mau mas arif?" tanya saya ke mas arif
"nanti saja kalo saya" jawab mas arif sembari tersenyum

Setelah percakapan dengan abang sate, saya seperti hidup kembali. Hahahhaa...Bagaimana tidak. Rasanya bahagia sekali ketemu penjual ditempat entah berantah yang membuat saya merasa begitu kelelahan. Tidak seperti biasanya saya seperti ini.
Dijamin males gerak kalo udah duduk disini
Kabut yang menutupi pegunungan

Pemandangan paket lengkap banget ini
Saking semangatnya rasa lelah pun terlupakan karena diotak saya hanya memikirkan sate. Yaahhh sate yang terus terngiang-ngiang dipikiran saya. Bukan cuma kamu sayang bukan!!! tapi sate yang terus menghantui pikiran saya saat ini. Hahahahaa :p

Semakin menanjak akhirnya kami menemukan warung yang masih buka. 

Alhamdulillaaaaaahhhhh...Bahagia lihat warung yang menjajakan aneka cemilan yang berjuntai di dinding dengan berbagai minuman yang sudah berjajar rapi didepan warung. Dengan sigap saya mengambil minuman mineral yang tidak dingin dengan beberapa snack dengan beringas karena lapar sudah tidak bisa lagi diajak kompromi.

Avia, Novi dan Saya lagi asik makan sate pinggir sawah
Memang saya punya hawa selalu lapar kalau ditempat dingin. Walaupun sudah makan pop mie, chiki 2 bungkus dan coklat tetap saja masih mau makan yang lain. 

Menunggu sate yang belum juga datang membuat saya kesal sendiri. Tak lama kemudian datanglah mas sate bertopi hitam dengan sekantong plastik hitam yag terlihat beberapa tusuk sate terbungkus dengan kertas berwarna coklat.

"Yippiiiieeee sataaaaayyyyy" Teriak saya kegirangan

Makan sate dipinggir persawahan dengan pemandangan beberapa bukita yang telah tertutup kabut dengan semilir anginyang begitu sejuk.

"aaahhhh mewah sekali tempat makan saya kali ini" sahutku dalam hati

Tempat seperti ini memang butuh perjuangan, Setiap pemandangan memiliki ciri khas tersendiri. Makanya saya selalu bilang kalau tempat makan dipinggir sawah itu sudah pasti mewah.

Mas Arif, Avia masih menunggu pesanan makanan
Selesai makan sate kami tidak langsung beranjak ke air terjun tirtosari. Padahal suara gemercik air terjun sudah terdengar jelas dari tempat kami makan sate dipingir sawah. Entah mengapa kita semua mager buat beranjak kesana. Rasanya tidak mau meninggalkan tempat yang begitu indahnya didepan mata.

"hayuk cepat jalan lagi. Sebentar lagi mau hujan loh kalau gak jalan juga" Ajak Mas Arif
"Duuhh mager yah" Sahut saya ke semuanya
"Hahahahaha iya mager!!" Jawab Avia dengan tawa

Tapi apa boleh buat, memang langit semakin gelap kami pun melanjutkan perjalanan yang masih ratusan meter untuk menuju Air terjun Tirtosari.

Air terjun Tirtosari
Benar saja hujan semakin deras, Kami pun berlari sekencang mungkin menuju gubuk yang berada didekat persawahan. Beruntungnya ada tempat berteduh disana. 

Kami masih  menunggu derasnya hujan disertai tangan yang terulur keluar gubuk agar tau seberapa derasnya rintikan hujan. Tak terlalu deras rintikan hujan kala itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju air terjun tirtosari. Saya membawa payung tapi sayangnya tidak terlalu besar, Hanya cukup untuk dua orang saja. Mas Arif, Novi dan Avia terus berlari. tak ada satupun yang mau bareng pakai payung saya. Sudah saja saya berjalan sendiri dengan santainya paling belakang. Sementara mereka terus berlari dengan menggunakan jaket yang menutupi kepalanya.

Air Terjun Tirtosari 
Gemuruh air yang terjatuh dari atas dengan ketinggian 50 meter mulai terdengar jelas. 

"Yeeesss sampai juga di air terjun tirtosari" sahutku gembira 


Saya sempat kecewa melihat air terjunnya karena tidak seperti yang saya bayangkan. Memang akhir-akhir ini saya sudah tidak seperti dulu kalau ke suatu tempat harus googling dan lihat kondisinya. 

Kali ini saya cuma ikut saja tanpa tahu seperti apa tempat tujua wisata saya. But its oke, Setidaknya selama diperjalanan menuju air terjun tirtosari, mata saya terus dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa takjub!!!

Konon katanya, air terjun tirtosari memiliki mitos. Jadi bagi kalian yang membasuh muka di air terjun ini seraya akan menjadi lebih awet muda dan bagi para wania yang mandi tepat dibawah rintikan air terjun maka akan meningkatkan daya tarik. Percaya? terserah aja, semua itu kan kembali ke kepercayaan kalian masing-masing.

Setelah puas menikmati derasnya air terjun tirtosari kami pun pulang dengan memaksakan main hujan-hujanan karena sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Tidak mungkin kan kami bermalam disini dengan kondisi tidak ada pengunjung lain yang datang.

Terima kasih Avia yang sudah menemani perjalanan saya hari ini

Terima kasih Mas Arif yang sudah bersedia mendengarkan celotehan saya sepanjang di perjalanan dan juga sudah memboncengi saya.

Terima kasih Novi yang sudah mengantarkan Avia dalam perjalanan saya yang tidak mungkin kalau cuma kita bertiga saja.




Telaga Sarangan & Air Terjun Tirtosari
Ngluweng, Ngancar, Plaosan
Kabupaten Magetan. Jawa Timur 63361

Tiket Telaga Sarangan Rp. 7.500/orang
Tiket Air Terjun Tirtosari Rp. 7.000/orang